Mengenal Korea Selatan Lewat Program Jurnalis: Diplomasi, Budaya, hingga KF-21
Mengenal Korea Selatan: Diplomasi, Budaya, dan KF-21

Sepekan di Korea Selatan, para jurnalis Indonesia berkesempatan menyusuri Negeri Ginseng dalam program The Indonesian Next Generation Journalist Network yang digelar Korea Foundation bersama Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) pada pertengahan Juni lalu. Program ini menjadi ajang untuk mengenal Korea Selatan lebih dekat, sekaligus merayakan eratnya persahabatan antara Indonesia dan Korea Selatan.

Menyambut di Samcheonggak dan Museum Nasional Korea

Begitu tiba di Seoul, rombongan langsung menuju Samcheonggak untuk mengikuti sambutan jamuan makan siang. Wakil Presiden Eksekutif Korea Foundation, Yonguk Kim, bersama jajaran menyambut para jurnalis. Suasana keakraban terlihat dalam perbincangan santai di kawasan restoran yang penuh nuansa budaya dan seni.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Museum Nasional Korea. Di sana, para jurnalis diajak menelusuri perjalanan sejarah dan budaya Korea Selatan dari masa ke masa. Salah satu koleksi yang paling menyita perhatian adalah Pagoda Batu Sepuluh Tingkat yang berdiri megah di tengah museum. Pagoda itu dikenal memadukan gaya tradisional Dinasti Goryeo dengan pengaruh eksotis yang diadopsi melalui Dinasti Yuan (Tiongkok).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Di balik kemegahannya, pagoda itu juga menyimpan cerita masa lalu yang getir bagi Korea Selatan. Pada 1907, pagoda itu sempat dibawa secara ilegal ke Jepang. Namun berkat kegigihan dan upaya keras dari berbagai pihak, pagoda itu berhasil direbut kembali dan dipulangkan ke Korea pada 1918.

Setelah dari museum, rombongan bergerak menuju Taman Banpo Hangang menggunakan bus. Suasana indah sore hari di taman tersebut menutup perjalanan di hari pertama. Makan malam dilakukan dengan menghadap sungai Han yang tenang.

Persahabatan Erat Indonesia-Korsel di Gedung Majelis Nasional

Keesokan harinya, rombongan mengunjungi Gedung Majelis Nasional Korea Selatan. Ketua Komite Persahabatan Majelis Nasional Korea Selatan-Indonesia, Gi-hyeon Kim, menerima rombongan jurnalis di ruangan Komite Urusan Diplomasi dan Unifikasi. "Kami merasa akan sangat bermakna jika menjamu Anda di sini karena tempat ini merupakan ruang yang digunakan untuk diplomasi," kata dia menjelaskan ruang pertemuan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa hubungan Korea dan Indonesia telah terjalin erat sejak lama. Hubungan diplomatik Indonesia dan Korea Selatan telah terjalin sejak 1973. Pada 2023, kedua negara merayakan hubungan diplomatiknya yang ke-50. Saat itu, Gi-hyeon menjabat sebagai pemimpin partai politik penguasa di Korea Selatan. "Karena itu, saya merasa memiliki ikatan yang khusus dengan Indonesia," ujarnya.

Ia menyampaikan saat ini ada sekitar 77 ribu warga Indonesia yang tinggal di Korea dan sekitar 27 ribu warga Korea tinggal di Indonesia. "Saya juga mengetahui bahwa konten Korea seperti drama Korea dan musik Korea mendapatkan perhatian dan cinta yang besar dari masyarakat Indonesia. Karena itu saya berharap pertukaran budaya dan seni antar kedua negara akan semakin berkembang," katanya.

Kunjungan ke KBRI Seoul: Special Comprehensive Strategic Partnership

Setelah dari Gedung Parlemen, perjalanan berlanjut ke Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di Seoul. Dubes RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, bersama jajaran KBRI menyambut kedatangan rombongan jurnalis. Dalam sambutannya, Dubes Cecep berharap para peserta The Indonesian Next Generation Journalist Network dapat menjadi agen persahabatan Indonesia dan Korea Selatan.

Ia menjelaskan mengenai perjalanan hubungan diplomatik Indonesia dan Korsel yang telah terjalin sejak 1973. Menurut Cecep, relasi kedua terus berkembang hingga kini semakin solid dan strategis. Hal itu ditandai dengan peningkatan status hubungan Indonesia dan Korsel ke level Special Comprehensive Strategic Partnership saat kunjungan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu. "Kalau boleh saya bilang, menjadi satu-satunya hubungan diplomatik Korea dengan negara asing pada tingkatan ini, hanya dengan Indonesia, yaitu menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership. Ini patut berbangga juga kita bahwa kita dinilai sebagai satu-satunya negara yang punya tempat khusus dalam hubungan antara Indonesia dengan Korea," ujar Dubes Cecep.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Menurut Cecep, perubahan status tersebut bukan sekadar simbol hubungan diplomatik. Lebih dari itu, status tersebut memperlihatkan semakin dalamnya kepercayaan Indonesia dan Korea Selatan. Kerja sama kedua negara juga semakin meningkat dalam berbagai bidang mulai dari ekonomi, pendidikan, budaya, teknologi hingga pertahanan. Di sektor pertahanan, Indonesia selalu menjadi mitra penting bagi Korea Selatan. Berbagai produk alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan Korea Selatan telah digunakan Indonesia mulai dari KRI Mandau, pesawat latih KT-1, T-50 hingga kapal selam Nagapasa. Tak hanya sebagai pembeli, Indonesia juga menjadi mitra strategis industri pertahanan Korea Selatan lewat kerja sama proyek pengembangan jet tempur KF-21 Boramae. "Kita mengirimkan beberapa insinyur dan juga beberapa pilot untuk terlibat langsung dalam pengembangan industri ini," ujar Cecep.

Melihat Berbagai Sisi Korea Selatan

Perjalanan selama sepekan di Korea Selatan tak hanya diisi dengan kegiatan diskusi mengenai diplomasi. Rombongan juga diajak melihat lebih dekat bagaimana perkembangan negara itu melalui kunjungan ke sejumlah institusi. Salah satu agenda adalah mengunjungi Kementerian Luar Negeri Korea Selatan. Dalam pertemuan itu, para jurnalis berdiskusi mengenai perkembangan hubungan Indonesia dan Korea Selatan, sekaligus membahas mengenai situasi dunia saat ini yang penuh dengan ketidakpastian.

Yang menarik, para jurnalis juga berkesempatan berbincang dengan para jurnalis Korea Selatan yang sehari-hari meliput Kementerian Luar Negeri. Mereka saling bertukar cerita mengenai pola peliputan berita, tantangan dunia jurnalistik hingga pengaruh AI dalam pekerjaan.

Perjalanan kemudian berlanjut ke kantor Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND). Di sana, diskusi lebih banyak membahas mengenai investasi dan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan. Setelah itu, ada juga diskusi santai saat makan siang bersama Dr. Eunsook Chung dari The Sejong Institute dan Dr. Jihyouk Lee dari Overseas Economic Research Institute. Jihyouk Lee bahkan memiliki kedekatan tersendiri dengan Indonesia. Ia telah beberapa kali berkunjung untuk melakukan riset, salah satunya mengenai batik Indonesia.

Tak hanya melihat Korea Selatan dari sisi diplomasi dan ekonomi, rombongan juga diajak untuk melihat dekat kemajuan industrinya. Mereka mengunjungi Hyundai Motor Studio Goyang untuk melihat langsung bagaimana teknologi terbaru diterapkan dalam pengembangan produksi kendaraan. Pihak Hyundai menjelaskan mengenai perkembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle), termasuk potensi pasar Indonesia yang dinilai terus berkembang.

'BMW' di Korsel: Transportasi Terintegrasi

Selama sepekan berada di Korea Selatan, ada satu hal yang paling terasa yakni bagaimana seluruh moda transportasi saling terhubung. Warga Seoul biasa sehari-hari menggunakan transportasi umum untuk berangkat kerja maupun beraktivitas. Dari pengalaman itu, para jurnalis pun mengenal istilah BMW, singkatan dari Bus, Metro dan Walk.

Pengalaman itu benar-benar dirasakan saat hari keempat ketika rombongan mengunjungi Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon. Perjalanan dimulai dari Stasiun Seoul, sebagai salah satu simpul utama transportasi di ibu kota. Jika pada hari-hari sebelumnya lebih banyak menggunakan bus, kali ini perjalanan ditempuh dengan kereta cepat andalan Korea Selatan, KTX. Perjalanan dari Stasiun Seoul menuju Stasiun Jinju memakan waktu sekitar tiga setengah jam. Sepanjang perjalanan, hamparan sawah dan pegunungan menjadi pemandangan yang menemani dari balik jendela kereta.

Setibanya di Jinju, perjalanan dilanjutkan menggunakan bus menuju Korea Aerospace Industries. Di lokasi tersebut, para jurnalis berdiskusi mengenai perkembangan industri dirgantara dan pertahanan Korea Selatan. Salah satu yang paling berkesan dalam kunjungan ini adalah kesempatan melihat langsung jet tempur KF-21 Boramae, proyek pengembangan pesawat tempur yang turut melibatkan Indonesia.

Usai dari KAI, perjalanan berlanjut menuju salah satu destinasi wisata di Sacheon. Dari atas kereta gantung terpanjang di Korea Selatan, para jurnalis menikmati pemandangan pegunungan dan laut dari ketinggian. Menjelang malam, rombongan kembali ke Seoul menggunakan pesawat dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Setelah turun dari pesawat, mereka berjalan kaki menuju kereta bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Seoul. Selanjutnya berpindah menggunakan subway menuju stasiun terdekat di hotel tempat menginap.

Perjalanan hari itu menjadi pengalaman berkesan selama berada di Korea Selatan. Dalam sehari, para jurnalis menjajal semua moda transportasi, mulai dari bus, kereta cepat, pesawat, subway hingga berjalan kaki. Saat jamuan makan siang perpisahan bersama Korea Foundation, mereka sempat bertanya apakah warga Seoul sehari-hari juga menggunakan transportasi umum untuk berangkat kerja. Jawabannya sederhana: 'tentu'. Mereka menjelaskan warga Seoul memang terbiasa bepergian menggunakan transportasi publik. Kebiasaan itu dikenal dengan istilah BMW, namun bukan merek mobil asal Jerman, melainkan singkatan dari Bus, Metro dan Walk.