Gedung Putih Bantah Isu Trump Coba-coba Kode Nuklir
Gedung Putih Bantah Isu Trump Coba Kode Nuklir

Washington - Rumor liar mengenai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang diduga mencoba-coba kode nuklir saat rapat mengenai Iran pada Sabtu (18/4) langsung dibantah mentah-mentah oleh Gedung Putih. Isu ini dinilai tidak berdasar dan tidak ada bukti kredibel yang mendukungnya.

Asal-usul Klaim

Klaim tersebut bermula dari pernyataan mantan perwira CIA, Larry Johnson, dalam podcast "Judging Freedom" pada 20 April. Johnson mengklaim bahwa rapat darurat Gedung Putih pada 18 April diwarnai adu mulut, di mana Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menolak perintah Trump yang melibatkan kode nuklir. Menurut Johnson, perdebatan itu "cukup sengit" dan jenderal tersebut menolak memfasilitasi tindakan tersebut.

Tidak Ada Konfirmasi Resmi

Hingga saat ini, tidak ada laporan independen atau konfirmasi resmi yang mendukung pernyataan Johnson. Meskipun pertemuan tingkat tinggi memang terjadi terkait berakhirnya gencatan senjata Iran, tidak ada sumber kredibel yang memverifikasi bahwa wewenang peluncuran nuklir pernah digunakan. Beberapa anggota parlemen Partai Republik juga menyatakan skeptisisme. Senator Thom Tillis mengatakan kepada Newsweek bahwa ia membutuhkan konfirmasi dari berbagai sumber sebelum menganggap klaim tersebut serius.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sistem Komando Nuklir AS

Klaim ini bertentangan dengan protokol sistem komando nuklir AS. Ketua Kepala Staf Gabungan hanya bertugas sebagai penasihat dan tidak memiliki wewenang untuk memblokir atau melaksanakan perintah peluncuran. Meskipun ada pengamanan seperti "aturan dua orang", sistem ini dirancang untuk memastikan setiap perintah sah dari panglima tertinggi dilaksanakan. Konfrontasi langsung seperti yang digambarkan Johnson akan mencerminkan krisis konstitusional yang luas.

Rekam Jejak Johnson

Johnson, yang menjabat sebagai wakil direktur Kantor Kontraterorisme Departemen Luar Negeri AS dari 1989 hingga 1993, telah menjadi sorotan atas klaim-klaim kontroversial sebelumnya. Ia termasuk yang menyebarkan tuduhan pada 2017 bahwa badan intelijen Inggris, GCHQ, membantu pemerintahan Obama memata-matai kampanye Trump. Klaim itu dibantah pejabat AS dan Inggris, dan disebut GCHQ sebagai "sangat tidak masuk akal". Johnson juga pernah menyebarkan rumor palsu bahwa Michelle Obama menyampaikan pidato rasis terhadap orang kulit putih.

Dengan demikian, isu kode nuklir Trump ini hanyalah rumor tanpa bukti yang telah dibantah secara resmi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga