Empat hari telah berlalu sejak sebuah pesawat kecil menabrak gedung pencakar langit tertinggi di Beijing, menewaskan pilot—satu-satunya orang di dalam pesawat—dan melukai 13 orang lainnya. Namun, hingga kini masih belum jelas mengapa dan bagaimana insiden itu terjadi. Sebuah laporan sepanjang 60 kata di media milik negara, Beijing Daily, menjadi satu-satunya pernyataan resmi yang dipublikasikan China mengenai kecelakaan yang terjadi hanya beberapa kilometer dari Zhongnanhai, markas besar Partai Komunis tersebut.
Tabrakan dan Respons Pemerintah
Tabrakan pada Jumat (26/06) menciptakan lubang di sisi Menara CITIC setinggi 109 lantai, yang sejak itu telah ditutup dengan papan. Rekaman dramatis dari insiden tersebut telah dihapus dari internet. Setidaknya tiga perusahaan penerbangan mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah diberitahu untuk menangguhkan operasi pesawat ringan, tetapi menolak menjelaskan lebih lanjut. Mereka mengaku telah diperintahkan untuk tidak membahasnya. "Kami diberi tahu untuk tidak membicarakannya. Silakan tanya pihak lain," kata seorang perempuan di sebuah lembaga pelatihan penerbangan di Beijing. Perusahaan lain di Chengdu menolak menyebutkan otoritas mana yang mengeluarkan instruksi tersebut, dan segera mengakhiri panggilan.
Sensor Meluas hingga Konten Tak Terkait
Di tengah kekosongan informasi, spekulasi meningkat mengenai bagaimana pesawat tersebut bisa menembus kota dengan kendali ruang udara paling ketat di dunia. China bukanlah hal baru dalam penyensoran. Kritik terhadap partai, pemimpin negara, atau pemerintah jarang terjadi. Namun, kali ini sensor melampaui target yang jelas. Foto dan meme tentang gedung pencakar langit tersebut, yang tidak terkait dengan insiden Jumat, juga telah dihapus dari platform media sosial China.
Manya Koetse, pengelola buletin Eye on Digital China, mengatakan mesin sensor bergerak begitu cepat dan menyeluruh kemungkinan karena kepemimpinan Beijing "masih belum sepenuhnya yakin apa yang terjadi." "Ini adalah insiden yang sangat tidak biasa," ujarnya, seraya menambahkan bahwa hal itu mempertanyakan kompetensi pemerintah dan mengancam "narasi penting partai."
Spekulasi dan Perbandingan dengan 9/11
Pesawat tersebut adalah Aurora SA60L bermesin tunggal dengan dua kursi yang diproduksi oleh perusahaan China, Sunward Aircraft, menurut layanan pelacakan penerbangan Flightradar24. Dengan panjang 6,9 meter dan bentang sayap 8,6 meter, pesawat itu dirancang untuk perjalanan wisata, fotografi udara, dan penerbangan rekreasi. Di luar China, insiden itu mengingatkan sebagian orang pada serangan 11 September 2001, ketika pelaku bunuh diri menabrakkan pesawat penumpang ke dua pencakar langit di New York. "Ini persis seperti peringatan berita yang saya terima ketika sebuah pesawat menabrak menara pertama saat 9/11," tulis seorang pengguna di Reddit.
Pelanggaran Keamanan dan Konsekuensi Politik
Beijing memberlakukan zona larangan terbang permanen seluas sekitar 100 km persegi di atas kawasan inti pemerintahan yang mencakup Lapangan Tiananmen dan Zhongnanhai. Analis China, Bill Bishop, menyebut insiden itu sebagai "pelanggaran keamanan besar." "Hanya beberapa detik lagi terbang dan [tabrakan] itu bisa terjadi di Zhongnanhai... [Itu akan menjadi] guncangan besar dalam sistem keamanan Beijing."
Raymond Kuo, wakil presiden riset di Chicago Council of Global Affairs, mengatakan fakta bahwa sebuah pesawat kecil mampu terbang melintasi sebagian besar kota dan mendekati Zhongnanhai merupakan "hal yang memalukan secara politik dan merupakan kelalaian keamanan besar." Hal itu bisa jadi merupakan kesalahan pilot atau kegagalan mekanis, namun ia menambahkan bahwa hal itu juga "mungkin saja disengaja."
Perbandingan dengan Insiden Masa Lalu
Chong Ja Ian, peneliti non-residen di Carnegie China, mengatakan perbandingan yang lebih dekat adalah insiden pada Mei 1987 ketika pilot amatir Jerman, Mathias Rust, mendaratkan pesawat ringannya di Lapangan Merah di Moskow. "Penerbangannya dan pendaratannya menyoroti kealpaan serius dalam sistem pertahanan udara Soviet. Insiden tersebut menyebabkan sejumlah pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas pertahanan udara dan keamanan dicopot," kata Chong. Demikian pula, tambahnya, beberapa pejabat mungkin akan dicopot dari jabatan mereka terkait kecelakaan di Beijing. "Sebuah pesawat kecil yang menabrak Menara CITIC berarti drone atau rudal juga mungkin bisa melakukannya. Ini sedikit memalukan bagi layanan keamanan yang bertanggung jawab atas Beijing."



