Aksi 14 Menteri Mundur yang Paksa Soeharto Menyerah
Aksi 14 Menteri Mundur Paksa Soeharto Menyerah

Pada 20 Mei 1998, suasana di Senayan, Jakarta Pusat, terasa magis sekaligus mencekam. Ribuan mahasiswa menduduki Gedung Kura-kura, simbol parlemen Indonesia, menuntut reformasi total dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Di saat yang sama, drama senyap terjadi di Istana Merdeka. Sembilan tokoh bangsa dipanggil Soeharto, termasuk Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, Nurcholish Madjid, dan Ma'ruf Amin. Yusril Ihza Mahendra juga ikut serta atas ajakan Nurcholish Madjid.

Penolakan Tokoh Bangsa

Soeharto menawarkan pembentukan Komite Reformasi untuk meredam amarah rakyat. Namun, para tokoh menolak halus tawaran tersebut. Bahkan Nurcholish Madjid atau Cak Nur menolak menjadi ketua atau anggota komite. Penolakan ini menjadi pukulan telak bagi Soeharto. "Jika orang yang moderat seperti Cak Nur tak lagi memercayai saya, maka sudah saatnya bagi saya untuk mundur," ucap Soeharto pasrah, sebagaimana dikutip dalam buku Api Islam Nurcholish Madjid.

Pemberontakan di Bappenas

Sore harinya, pukul 17.00 WIB, Wakil Presiden B.J. Habibie menerima telepon dari Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita. Ginandjar mengabarkan bahwa dirinya bersama 13 menteri lainnya mogok dan menolak duduk di kabinet baru. Surat penolakan telah dikirim ke Istana melalui putri Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana. Habibie segera menemui Soeharto untuk membahas kabinet. Namun, Soeharto mempercepat rencananya: pengunduran diri yang semula dijadwalkan 23 Mei dimajukan menjadi 21 Mei.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Telepon yang Ditolak

Habibie mencoba menghubungi Soeharto melalui Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursjid, tetapi komunikasi ditolak. Pesan dingin disampaikan bahwa Soeharto akan mundur esok pagi. Pertemuan yang dijanjikan ajudan tidak pernah terjadi.

Pengumuman Mundur

Kamis, 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, di Ruang Credential Istana Merdeka, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Dengan suara bergetar, ia menyatakan, "Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik." Pekik takbir dan sorak-sorai kemenangan pecah dari Istana hingga Senayan. Ribuan mahasiswa merayakan runtuhnya Orde Baru, banyak yang menceburkan diri ke kolam kompleks parlemen. Pendudukan gedung berakhir, dan Indonesia memasuki era Reformasi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga