Bamsoet Ajak IKAL Lemhannas Jaga Stabilitas Nasional di Tengah Gejolak Geopolitik Global
Bamsoet Ajak IKAL Lemhannas Jaga Stabilitas RI

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Alumni Angkatan XIII Lembaga Ketahanan Nasional (KSA XIII Lemhannas) 2005, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mengajak Ikatan Alumni (IKAL) Lemhannas untuk menjaga stabilitas nasional di tengah gejolak geopolitik global yang semakin kompleks dan tidak menentu.

Dampak Konflik Global terhadap Indonesia

Menurut Bamsoet, situasi dunia saat ini menunjukkan eskalasi konflik yang berdampak langsung terhadap ekonomi, energi, hingga keamanan nasional berbagai negara, termasuk Indonesia. Krisis di Timur Tengah, terutama konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, telah memicu gangguan serius pada jalur energi dunia dan meningkatkan ketidakpastian global.

Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) April 2026 menegaskan bahwa konflik geopolitik telah meningkatkan harga komoditas dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Indonesia sebagai negara berkembang dengan ketergantungan impor energi menghadapi tekanan serius terhadap APBN, terutama dari sisi subsidi energi yang berpotensi membengkak hingga ratusan triliun rupiah akibat lonjakan harga minyak dunia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Bamsoet menyatakan, "Dunia saat ini sedang menghadapi situasi yang sangat tidak stabil. Konflik geopolitik telah berkembang menjadi krisis multidimensi yang memengaruhi energi, pangan, ekonomi, hingga keamanan siber. Dampaknya langsung terasa pada harga energi, inflasi, dan daya beli masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia."

Peran Strategis IKAL Lemhannas

Hal itu disampaikan Bamsoet saat Halalbihalal Ikatan Alumni Lemhannas yang dihadiri Ketua Angkatan KSA XIII Komjen Pol (P) Nanan Soekarna di Parle Senayan, Jakarta, Minggu (26/4). Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menilai, di tengah situasi tersebut, IKAL Lemhannas memiliki posisi strategis karena beranggotakan tokoh-tokoh lintas sektor yang memiliki pemahaman geopolitik dan wawasan kebangsaan yang kuat. Mereka tersebar di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, militer, dunia usaha, hingga akademisi, sehingga memiliki kapasitas untuk menjadi penghubung antara kebijakan negara dan implementasi di lapangan.

"Alumni Lemhannas harus menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas nasional. Para alumni Lemhannas memiliki bekal pemikiran strategis dan jaringan luas untuk memastikan setiap kebijakan negara dapat dijalankan secara efektif di tengah dinamika global," kata Bamsoet.

Kontribusi sebagai Strategic Community

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menekankan pentingnya peran IKAL Lemhannas sebagai strategic community yang mampu memberikan masukan kebijakan berbasis analisis mendalam. Bamsoet juga mendorong agar IKAL Lemhannas lebih aktif berkontribusi dalam penguatan literasi kebangsaan dan menjaga kohesi sosial di tengah meningkatnya polarisasi.

"Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan global bisa memicu instabilitas di dalam negeri. Di sinilah peran IKAL Lemhannas sangat penting sebagai perekat bangsa dan penjaga arah kebijakan nasional," jelas Bamsoet.

Adaptasi terhadap Perkembangan Zaman

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mengingatkan IKAL Lemhannas juga harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Terutama dalam menghadapi transformasi digital dan ancaman siber yang semakin kompleks. Kolaborasi lintas sektor dan penguatan kapasitas analisis berbasis data menjadi kebutuhan mendesak.

"Ke depan, IKAL Lemhannas harus mampu menjadi pusat pemikiran strategis yang adaptif, responsif, dan solutif. Dengan begitu, IKAL Lemhannas dapat berkontribusi nyata dalam menjaga stabilitas nasional di tengah dunia yang semakin tidak pasti," pungkas Bamsoet.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga