Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyatakan tidak terkejut dengan kabar bahwa mantan kader mereka sekaligus Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, akan menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal ini disampaikan oleh Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, di sela-sela acara Bimbingan Teknis (Bimtek) PDIP pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Djarot Sudah Tahu Sejak Awal
Djarot mengaku telah mengetahui informasi tersebut sejak PSI mendaftarkan kepengurusan hasil Kongres Solo 2025 lalu ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Ia mengatakan bahwa dari pendaftaran tersebut sudah jelas terlihat siapa yang akan menjadi dewan pembina partai tersebut.
“Kan sudah tahulah kita dari dululah. Waktu daftar ke Kemenkumhan kan jelas itu ya, dewan pembinanya inisialnya apa J? Ya sudahlah itu,” ujar Djarot.
Drama Pengumuman Dinilai Tidak Perlu
Menurut Djarot, keputusan PSI yang tidak kunjung mengumumkan secara resmi nama Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina hanyalah drama politik. Ia menilai masyarakat sudah cerdas dan mampu memahami situasi tersebut tanpa perlu pengumuman resmi.
“Udah jelas gitu loh. Rakyat ini sudah pandai, sudah cerdas untuk bisa melihat, udah tahulah drama-drama seperti itu ya,” katanya.
Kabar dari PSI
Sebelumnya, Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menyampaikan bahwa Jokowi akan mengisi posisi Ketua Dewan Pembina yang sebelumnya dijabat oleh Jeffrie Geovanie. Namun, Bestari menegaskan bahwa pengumuman resmi masih menunggu keputusan Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep.
“Ya kalau saya bilang ya bener lah. Tinggal menunggu waktunya kapan itu ya Mas Kaesang lah nanti itu sebagai Ketua Umum kita tidak ingin mendahului beliau, kan begitu,” kata Bestari saat dihubungi pada Selasa, 26 Mei 2026.
Dengan pernyataan ini, PDIP menunjukkan bahwa mereka telah mengantisipasi langkah politik Jokowi dan tidak terkejut dengan perkembangan terbaru di PSI.



