KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) memiliki jejak material yang jauh lebih kompleks daripada sekadar konsumsi energi. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Bonn, Jerman, menemukan bahwa chip yang digunakan untuk menjalankan AI mengandung berbagai logam yang jarang diketahui.
Pembongkaran Chip Nvidia A100
Tim peneliti membongkar chip Nvidia A100, yang merupakan salah satu komponen utama dalam pengembangan awal chatbot AI. Chip tersebut kemudian dianalisis di laboratorium kimia untuk mengidentifikasi seluruh unsur yang terkandung di dalamnya.
Temuan Mengejutkan
Sophia Falk, peneliti dari Sustainable AI Lab Bonn sekaligus penulis utama studi, menyatakan bahwa pihaknya berhasil mengatalogkan seluruh unsur yang terdapat dalam perangkat tersebut. Hasilnya, mereka menemukan sedikitnya 32 elemen berbeda, yang sebagian besar adalah logam.
Temuan ini menunjukkan bahwa produksi chip AI tidak hanya membutuhkan energi dalam jumlah besar, tetapi juga bergantung pada sumber daya mineral yang langka dan kompleks. Keberadaan logam-logam ini menambah dimensi baru dalam diskusi tentang dampak lingkungan dari teknologi AI.
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumber daya dan daur ulang dalam industri teknologi, terutama seiring dengan meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor.



