Para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 (SRT 5) Ponorogo, Jawa Timur, menunjukkan partisipasi aktif dalam melestarikan budaya Nusantara dengan tampil di ajang bergengsi Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026. Festival yang berlangsung selama empat hari, dari 11 hingga 14 Juni 2026, di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo ini diikuti oleh sekitar 60 peserta dari berbagai daerah.
Penampilan Memukau Grup Garudo Djoyo Manggolo
Kepala Sekolah SRT 5 Ponorogo, Devit Tri Candrawati, menyatakan bahwa keikutsertaan siswa dalam festival ini bertujuan memberikan pendidikan tentang pelestarian budaya daerah. Grup Reyog Garudo Djoyo Manggolo dari SRT 5 Ponorogo menampilkan tarian yang mengisahkan perjalanan Prabu Klono Sewandono saat melamar putri Kerajaan Daha, dihadang oleh Raja Singa Barong. Gerakan tari menggambarkan kegagahan dan keindahan gerak sang raja yang sedang dimabuk asmara, serta penggunaan pusaka cemeti Kyai Pecut Samandiman.
Pertunjukan semakin semarak dengan iringan gamelan Jawa yang memadukan kendang, gong, kenong, kethuk, slompret, serta paduan suara dan penyenggak. Penampilan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Dewan Kesenian Ponorogo setelah persiapan dan latihan intensif selama dua bulan.
Karakter Khas Reog dan Perjuangan Siswa
Para siswa diperkenalkan dengan karakter-karakter khas dalam reog, seperti Jathil (prajurit berkuda wanita), Bujang Ganong (patih lincah), Prabu Klono Sewandono (raja sakti), Warok (ksatria sakti), dan Barongan atau Dadak Merak (topeng kepala harimau dengan hiasan bulu merak raksasa seberat hampir 50 kg yang diangkat dengan gigitan gigi).
Salah satu penampil, Virda Amalia, siswi kelas 1 SRT 5 Ponorogo, mengaku bangga bisa berkontribusi di ajang nasional meskipun merasa campur aduk antara gugup, senang, dan takut. Ia harus menjalani latihan intensif setiap hari selama dua bulan penuh bersama 17 penari jathil lainnya, fokus pada hafalan, kekompakan, detail gerakan, ekspresi, kekuatan, serta kesiapan mental dan fisik.
Harapan dan Dampak Sosial
Virda, yang merupakan anak petani dan anak kedua dari tiga bersaudara, bersyukur mendapatkan pengalaman berharga berkat bergabung di Sekolah Rakyat. Biaya pendidikan gratis sangat membantu kondisi ekonomi keluarganya. Ia bercita-cita menjadi Polwan dan bekerja di luar negeri, serta berharap dapat melestarikan reog hingga ke mancanegara.
Selain SRT 5 Ponorogo, perwakilan lain seperti SRT 31 Palembang juga dijadwalkan tampil pada sesi penutup. Antusiasme pelestarian reog bahkan mencapai Korea Selatan dengan partisipasi warga Ponorogo di sana. Rangkaian perayaan Grebeg Suro akan mencapai puncak pada 15 Juni dengan kirab pusaka tombak dan lengker, diikuti pengumuman pemenang lomba.
Makna dan Sejarah Reog Ponorogo
Seni pertunjukan Reog Ponorogo yang dikemas dalam sendratari sarat nilai, makna, dan fungsi sosial. Secara historis, kesenian ini berawal dari pemberontakan Ki Ageng Kutu pada masa Bhre Kertabhumi, yang menciptakan Reog sebagai sindiran politik. Topeng barongan melambangkan raja hutan yang dikuasai pengaruh permaisuri dari Cina. Kesenian ini kini menjadi identitas kultural dan bagian dari upacara adat, pesta rakyat, serta penyambutan tamu kehormatan.
FNRP secara konsisten masuk dalam Karisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI sejak 2021, bahkan pernah meraih predikat event terbaik kedua dari 110 event nasional. Acara ini turut dihadiri Tenaga Ahli Menteri Sosial RI Fajar WH, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, dan penyuluh sosial muda Pusdiklatbangprof Amin Suaedi.



