Tokoh Betawi Kristen Cerita Warisan Toleransi Tinggi di Kampung Sawah Bekasi
Tokoh Betawi Kristen Cerita Warisan Toleransi di Kampung Sawah

Kampung Sawah di Kota Bekasi, Jawa Barat, dikenal sebagai wilayah dengan toleransi beragama yang sangat tinggi. Di sana, tiga rumah ibadah dari tiga agama berbeda berdiri saling berdekatan: Gereja Santo Servatius (Katolik), Gereja Kristen Pasundan (Protestan), dan masjid untuk umat Islam. Uniknya, semua penganut agama tersebut adalah orang Betawi asli setempat.

Sejarah Umat Katolik Betawi di Kampung Sawah

Ricardus Jacobus Napiun, tokoh Betawi Katolik yang akrab disapa Jacob, menceritakan awal mula umat Katolik di Kampung Sawah. Ia menjelaskan bahwa umat Katolik Betawi di sana lahir pada 1896, dengan pembaptisan 18 orang pada 6 Oktober 1896 oleh Pastor Bernardus Schweitz. Salah satu yang dibaptis adalah leluhur Jacob, Sam Napiun. Marga-marga seperti Napiun, Noron, Miman, dan Rikin menjadi ciri khas keturunan Betawi Katolik di Kampung Sawah.

Tradisi Marga Betawi Katolik

Jacob mengungkapkan bahwa penggunaan marga di kalangan Betawi Katolik bermula dari kebijakan kolonial untuk sensus. Marga seperti Napiun, Rikin, dan Miman menjadi penanda keluarga besar. Ia menambahkan, jika seseorang bernama Napiun, kemungkinan besar berasal dari Kampung Sawah dan beragama Kristen. Namun, jika sudah mualaf, marga tersebut tidak dipakai dan diganti dengan 'bin'.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Warisan Toleransi Tinggi

Jacob menekankan bahwa toleransi di Kampung Sawah sudah menjadi kesepakatan para tokoh agama dan masyarakat. Perbedaan agama dianggap sebagai urusan yang sudah selesai dan tidak perlu dipersoalkan. Sikap tolong-menolong antarumat beragama berjalan otomatis, tanpa perlu diingatkan. Misalnya, saat Idul Fitri atau Idul Adha, umat Katolik dan Protestan dengan sukarela membantu pengamanan di masjid. Sebaliknya, saat perayaan Natal, umat Islam ikut membantu di gereja.

Julukan Segitiga Emas

Tingginya toleransi di Kampung Sawah melahirkan julukan 'Segitiga Emas', yang merujuk pada letak tiga rumah ibadah yang membentuk segitiga. Istilah ini, menurut Jacob, pertama kali disematkan oleh Wakil Presiden ke-13 RI, Ma'ruf Amin. Emas yang dimaksud adalah persaudaraan, kerukunan, dan toleransi yang kini menjadi barang mahal.

Jacob mencontohkan kegiatan Sedekah Bumi yang akan digelar pada 16 Mei, dihadiri tokoh agama lintas iman dan Barisan Muda Lintas Agama. Semua merasa seperti saudara, tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga