Matcha Premium Rp 100 Ribu: Gaya Hidup atau Pelarian?
Matcha Premium Rp 100 Ribu: Gaya Hidup atau Pelarian?

Di gerai matcha premium di Jakarta Selatan, antrean mengular bahkan pada pukul dua siang di hari kerja. Harga satu gelas ceremonial matcha latte mencapai Rp 78.000, belum termasuk tambahan oat milk dan topping lain yang membuat total transaksi mendekati Rp 100.000.

Fenomena Konsumen Muda

Sebagian besar pembelinya berusia 20–35 tahun. Mereka datang dengan laptop, AirPods, tote bag minimalis, dan wajah lelah khas generasi urban modern. Di meja sebelah, seseorang membuka LinkedIn sambil membaca kabar PHK startup lain. Di sudut ruangan, dua orang membicarakan harga rumah yang terasa semakin mustahil dijangkau.

Antara Gaya Hidup dan Realitas

Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi matcha premium bukan sekadar minuman, melainkan simbol status dan pelarian dari tekanan hidup perkotaan. Harga yang fantastis tidak menghalangi minat, justru semakin mengukuhkan posisi matcha sebagai bagian dari gaya hidup urban.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Gerai-gerai ini menjadi saksi bisu perpaduan antara keinginan menikmati hal mewah dan kenyataan pahit ekonomi yang dihadapi anak muda Jakarta. Antrean panjang di siang bolong adalah cerminan ironi: di tengah ketidakpastian pekerjaan dan harga properti yang melambung, secangkir matcha seharga Rp 100.000 menjadi pelarian sesaat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga