Warga Amerika Serikat Soroti Trump Atas Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak
Warga Amerika Serikat (AS) secara luas menyalahkan Presiden Donald Trump atas lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di negara tersebut. Kenaikan harga ini dinilai sebagai dampak langsung dari konflik yang terjadi antara AS dan Iran dalam beberapa waktu terakhir, berdasarkan laporan dari CNBC pada Kamis, 16 April 2026.
Hasil Survei Quinnipiac University Mengungkap Sentimen Publik
Sentimen ini tercermin dalam jajak pendapat nasional yang dilakukan oleh Quinnipiac University terhadap pemilih terdaftar di AS. Survei yang dirilis pada Rabu, 15 April 2026, menunjukkan bahwa sebanyak 65 persen responden secara tegas menyebut Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kenaikan harga bensin yang mereka alami.
Konflik antara AS dan Iran telah menciptakan ketidakstabilan di pasar energi global, yang pada gilirannya mempengaruhi harga BBM domestik di Amerika Serikat. Banyak warga yang merasa bahwa kebijakan luar negeri Trump, termasuk ketegangan dengan Iran, telah berkontribusi pada situasi ini.
Survei ini tidak hanya mengukur opini publik, tetapi juga menyoroti bagaimana isu ekonomi seperti harga BBM dapat mempengaruhi persepsi terhadap kepemimpinan nasional. Dengan mayoritas responden menyalahkan Trump, hal ini menunjukkan tingkat ketidakpuasan yang signifikan di kalangan pemilih.
Analis mencatat bahwa kenaikan harga BBM sering kali menjadi isu sensitif bagi masyarakat, karena berdampak langsung pada biaya hidup sehari-hari. Dalam konteks ini, tanggapan warga AS terhadap Trump mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang stabilitas ekonomi dan kebijakan energi.



