P2MI Siapkan Langkah Mitigasi untuk Lindungi 20 Ribu TKI di Timur Tengah
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 20 ribu pekerja migran Indonesia atau tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tersebar di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Dalam situasi di mana ketegangan dan konflik di wilayah tersebut semakin memanas, P2MI telah menyiapkan berbagai upaya mitigasi untuk memastikan keselamatan dan perlindungan para TKI.
Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI
Hal ini disampaikan oleh Mukhtarudin dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu (8/4/2026). Dia menjelaskan bahwa P2MI telah membentuk Tim Crisis Monitoring di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan untuk mengawasi situasi secara ketat.
"Secara harian, kami melakukan monitoring dan koordinasi dengan perwakilan Indonesia yang ada di luar negeri, terutama di daerah-daerah yang mengalami konflik atau berada di sekitar zona konflik. Kami juga mengambil langkah-langkah mitigasi perlindungan yang diperlukan," kata Mukhtarudin.
Langkah-Langkah Mitigasi yang Ditempuh
Mukhtarudin menyebutkan bahwa P2MI akan mempertimbangkan penghentian sementara pengiriman TKI ke daerah-daerah yang terdampak konflik secara signifikan. Selain itu, kementerian akan melakukan pengecekan terhadap perusahaan penempatan pekerja migran yang beroperasi di wilayah tersebut.
"Jadi, kami juga melakukan mitigasi dengan cara mendinginkan atau menghentikan sementara penempatan TKI di daerah-daerah yang sangat rawan konflik dan berpotensi mengalami eskalasi. Kami akan melakukan pendataan terhadap Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang menyalurkan pekerja ke 20 kawasan di Timur Tengah untuk mendapatkan informasi terkait kendala yang dihadapi oleh pekerja migran Indonesia dalam situasi ini," ujarnya.
Dampak Psikologis dan Upaya Penanganan
Dia mengungkapkan bahwa mayoritas pekerja migran Indonesia di daerah konflik mengalami dampak psikologis yang serius, termasuk trauma akibat mendengar ledakan bom dan rudal secara sehari-hari.
"Mereka mengalami trauma psikologis karena terus-menerus mendengar suara bom dan rudal. Untuk menangani hal ini, kami telah menyiapkan konsultasi psikologis secara daring atau online yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Program ini sudah berjalan dengan baik," jelas Mukhtarudin.
Data Pekerja Migran dan Aduan Terkini
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 20.784 pekerja migran Indonesia dengan kontrak kerja aktif dari tahun 2023 hingga Maret 2026 yang tersebar di beberapa negara di Asia Barat, seperti Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab.
"Terdapat 20.784 kontrak aktif pekerja migran kita di sektor profesional perbatasan. Artinya, ada sekitar 20 ribu orang yang masih berada di sana. Selain itu, dalam periode 1 Maret hingga 7 April 2026, kami menerima 86 aduan dari pekerja migran Indonesia di perbatasan Iran, dengan mayoritas berasal dari Arab Saudi (141 orang), Turki (18 orang), dan Uni Emirat Arab (11 orang)," papar Mukhtarudin.
Upaya-upaya ini menunjukkan komitmen Pemerintah Indonesia dalam melindungi hak dan keselamatan pekerja migran di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah, dengan harapan dapat meminimalisir risiko dan memberikan dukungan yang diperlukan.



