Angka kemiskinan ekstrem di Provinsi Jawa Timur menunjukkan penurunan yang sangat signifikan. Berdasarkan data terkini dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) serta Badan Pusat Statistik (BPS) per 28 April 2026, persentase kemiskinan ekstrem di Jawa Timur pada tahun 2025 berhasil ditekan hingga mencapai 0,29 persen.
Capaian ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 0,85 persen. Secara makro, selama periode 2020 hingga 2025, kemiskinan ekstrem di Jawa Timur mengalami penurunan yang impresif sebesar 4,26 poin persentase. Pada tahun 2020, angka kemiskinan ekstrem Jatim tercatat sebesar 4,55 persen, kemudian terus menurun hingga mencapai 0,29 persen pada 2025. Penurunan ini lebih tajam dibandingkan penurunan nasional yang hanya sebesar 3,05 persen.
Pernyataan Gubernur Khofifah
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa pencapaian ini menjadi bukti nyata efektivitas pembangunan dan perlindungan sosial di Jawa Timur. Program-program yang dijalankan dinilai tepat sasaran dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Hal ini disampaikannya di Surabaya pada hari ini.
"Alhamdulillah, penurunan kemiskinan ekstrem di Jawa Timur saat ini berada di 0,29 persen atau jauh di bawah nasional sebesar 0,85 persen. Artinya, bukti intervensi tepat sasaran dan sinergi serta kolaborasi seluruh pihak berjalan efektif," ujar Khofifah dalam keterangan tertulis, Senin (25/5/2026).
Tren Penurunan Tahunan
Khofifah menjelaskan bahwa tren penurunan kemiskinan ekstrem di Jawa Timur terus menunjukkan progres positif setiap tahun. Pada tahun 2021, angka kemiskinan ekstrem turun menjadi 2,23 persen, kemudian menjadi 1,80 persen pada 2022, 0,82 persen pada 2023, 0,59 persen pada 2024, dan akhirnya mencapai 0,29 persen pada 2025.
Menurut Khofifah, capaian ini semakin bermakna karena terjadi di tengah penyesuaian standar garis kemiskinan ekstrem global. Sebelumnya menggunakan indikator US$ 1,99 Purchasing Power Parity (PPP), kini berubah menjadi US$ 2,15 PPP pada periode 2024-2025. "Meski standar pengukuran kemiskinan ekstrem mengalami penyesuaian secara global, Jawa Timur tetap mampu menurunkan angkanya secara konsisten. Ini menunjukkan bahwa program-program pengentasan kemiskinan yang dilakukan semakin tepat sasaran," jelasnya.
Indikator Ekonomi Makro Membaik
Pembangunan di Jawa Timur diarahkan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga inklusif dan mampu menurunkan kemiskinan serta memperluas kesejahteraan masyarakat. Hal ini tercermin dari membaiknya berbagai indikator makro ekonomi Jawa Timur. Berdasarkan rilis BPS pada 5 Februari 2026, persentase penduduk miskin Jawa Timur pada September 2025 tercatat sebesar 9,30 persen, turun dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 9,50 persen.
Selain itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur juga terus menurun. Data BPS per Februari 2026 menunjukkan TPT Jawa Timur turun menjadi 3,55 persen dari sebelumnya 3,61 persen pada Februari 2025. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 4,68 persen.
Peningkatan Kualitas Vokasi
Di sektor ketenagakerjaan, peningkatan kualitas pendidikan vokasi di Jawa Timur mulai menunjukkan hasil positif. Tingkat pengangguran lulusan SMK turun menjadi 5,73 persen dari sebelumnya 5,87 persen pada Februari 2025. Bahkan, lulusan SMK kini tidak lagi menjadi penyumbang tertinggi TPT di Jawa Timur. "Ini menunjukkan kualitas lulusan SMK semakin meningkat serta semakin banyak terserap dunia kerja. Ini menandakan link and match pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri berjalan semakin baik," ungkap Khofifah.
Pertumbuhan Ekonomi Impresif
Di tengah dinamika dan ketidakpastian global, ekonomi Jawa Timur tetap tumbuh impresif. Berdasarkan rilis BPS pada 5 Mei 2026, ekonomi Jawa Timur pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,96 persen secara year-on-year, menjadikannya yang tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui capaian nasional. Struktur ekonomi Jawa Timur ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan sebesar 31,45 persen, perdagangan sebesar 18,77 persen, dan pertanian sebesar 10,51 persen. Jawa Timur juga menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap perekonomian nasional dengan kontribusi sebesar 14,40 persen.
Kolaborasi Lintas Sektor
Khofifah menyebut bahwa capaian penurunan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem, penurunan pengangguran, serta pertumbuhan ekonomi Jawa Timur merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak dalam menjaga kondusifitas daerah dan memperkuat sinergi pembangunan. Dia menegaskan bahwa capaian tersebut tidak lahir secara instan, melainkan melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, organisasi sosial, komunitas masyarakat, hingga para relawan sosial yang bergerak bersama dalam semangat gotong royong.
Berbagai program strategis Pemprov Jatim terus diperkuat secara terintegrasi, mulai dari perlindungan sosial adaptif, pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi keluarga, bantuan sosial, PKH Plus, Desa Berdaya, perlindungan pekerja rentan, intervensi berbasis data P3KE, hingga peningkatan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat rentan. "Pengentasan kemiskinan ekstrem tidak cukup hanya melalui bantuan sosial. Harus ada pemberdayaan yang berkelanjutan agar masyarakat memiliki daya tahan ekonomi dan kualitas hidup yang lebih baik," tuturnya.
Komitmen Kesejahteraan Masyarakat
Khofifah menegaskan bahwa penanganan kemiskinan ekstrem bukan sekadar menurunkan angka statistik, melainkan memastikan masyarakat benar-benar merasakan peningkatan kesejahteraan secara nyata. "Yang terpenting bukan hanya angka turun, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kehidupan yang lebih layak, akses pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, pekerjaan yang layak, dan masa depan yang lebih sejahtera," katanya.
Dia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan di Jawa Timur. "No One Left Behind. Tidak boleh ada masyarakat Jawa Timur yang tertinggal dari arus pembangunan. Karena hakikat pembangunan adalah menghadirkan harapan, keadilan sosial, dan kesejahteraan hingga masyarakat lapisan paling bawah benar-benar merasakan manfaatnya," tutup Khofifah.



