Indonesia kerap menjadi subjek kritik dari berbagai kalangan, dengan pendekatan yang beragam. Jika komedian Pandji Pragiwaksono memilih cara yang dianggap vulgar dengan menyoroti oknum pejabat dalam pertunjukan Mens Rea, sutradara ternama Joko Anwar mengambil jalur berbeda. Melalui film horor berjudul Ghost in the Cell, yang mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada Kamis, 17 April 2026, Joko Anwar menyampaikan kritik sosial secara cerdas dan lugas.
Menggambarkan Kehidupan Lapas yang Banal
Film ini secara tajam dan satir mengungkap betapa banalnya kehidupan di lembaga pemasyarakatan (lapas) di Indonesia. Joko Anwar berhasil membuka mata dan mengedukasi penonton melalui narasi yang menghibur namun penuh makna. Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi berita nasional baru-baru ini, ia mengungkapkan bahwa pembuatan film ini tidak mudah.
Proses Produksi yang Menantang
Joko Anwar mengaku "terpaksa" membangun replika lapas sendiri untuk lokasi syuting, karena kesulitan mengakses fasilitas asli. Hal ini menunjukkan komitmennya dalam menyajikan gambaran autentik tentang kondisi lapas, meski dengan keterbatasan sumber daya. Film Ghost in the Cell tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk menyoroti isu-isu sistemik di balik tembok penjara.
Karya Joko Anwar ini telah memenangkan berbagai penghargaan di tingkat nasional dan internasional, memperkuat posisinya sebagai sutradara yang mampu menggabungkan unsur artistik dengan kritik sosial. Melalui pendekatan yang lebih halus dibandingkan kritik vulgar, film ini diharapkan dapat memicu diskusi publik tentang reformasi sistem pemasyarakatan di Indonesia.



