Tawa di Kampus yang Menyimpan Beban Sejarah Panjang bagi Perempuan
Tawa di Kampus yang Menyimpan Beban Sejarah bagi Perempuan

Tawa di Kampus yang Menyimpan Beban Sejarah Panjang bagi Perempuan

ADA tawa yang terdengar ringan di lingkungan kampus, namun sebenarnya menyimpan beban sejarah yang sangat panjang dan kompleks. Tawa itu muncul dari ruang yang seharusnya aman—kampus, tempat ilmu pengetahuan dan akal budi seharusnya bertumbuh dengan subur. Namun, ironisnya, justru di sanalah tubuh perempuan seringkali hadir bukan sebagai subjek yang merdeka dan dihormati, melainkan sebagai objek yang dipertontonkan, diparodikan, bahkan ditertawakan secara terbuka.

Kasus Erika yang Viral: Bukan Sekadar Soal Humor

Kasus "Erika" yang belakangan viral di media sosial bukanlah insiden biasa atau sekadar soal selera humor yang melampaui batas kewajaran. Insiden ini bermula dari beredarnya kembali sebuah video lama yang menampilkan mahasiswa menyanyikan lagu dengan nuansa vulgar dan konten yang merendahkan martabat perempuan. Video tersebut telah memicu diskusi luas tentang budaya kekerasan seksual yang masih mengakar di institusi pendidikan tinggi.

Fenomena ini mengungkapkan bagaimana perempuan di kampus sering dihadapkan pada situasi di mana tubuh mereka dijadikan bahan lelucon atau hiburan, tanpa mempertimbangkan dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkan. Hal ini memperlihatkan bahwa meskipun kampus dianggap sebagai pusat pencerahan, praktik-praktik diskriminatif dan patriarkal masih terus berlangsung di balik tembok akademik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak yang Terabaikan dalam Ruang Pendidikan

Kekerasan berbasis gender di kampus tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui verbal dan simbolik, seperti yang terlihat dalam kasus ini. Parodi dan lelucon yang merendahkan perempuan dapat menciptakan lingkungan yang tidak aman dan tidak mendukung bagi mahasiswi untuk berkembang secara akademis dan personal. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Normalisasi kekerasan seksual melalui humor yang dianggap "biasa" di kalangan mahasiswa.
  • Kurangnya mekanisme pelaporan yang efektif untuk menangani kasus-kasus serupa di kampus.
  • Dampak jangka panjang pada kesehatan mental korban, termasuk rasa malu, trauma, dan penurunan prestasi akademik.

Kasus Erika ini seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pihak di dunia pendidikan untuk lebih serius dalam menciptakan ruang yang inklusif dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Pendidikan tidak hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang membangun karakter dan menghormati hak asasi setiap individu, tanpa terkecuali.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga