Charles Gozali Ungkap Inspirasi Badut Gendong dari Tradisi Solo
Sutradara Charles Gozali mengungkapkan bahwa ide awal karakter Badut Gendong lahir dari kekagumannya terhadap sebuah permainan budaya tradisional yang ia saksikan di Solo pada tahun 2011. Hal ini disampaikan dalam jumpa pers film Badut Gendong di Metropole XXI, Jakarta Pusat, Rabu (29/4/2026).
Charles menceritakan bahwa saat itu ia bersama tim sedang melakukan survei untuk penulisan skenario film Finding Srimulat di Kota Solo. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan sebuah kelompok budaya yang memainkan berbagai seni tradisional. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi utama lahirnya karakter Badut Gendong.
“Kami ke 2011 ke Solo untuk survei penulisan skenario film Finding Srimulat dulu. Dan kemudian kami ketemu sebuah kelompok budaya dan mereka memainkan beberapa seni budaya yang tradisional di situ,” ucap Charles dalam jumpa pers tersebut.
Charles mengaku sangat terkesan dengan pertunjukan yang ia saksikan saat itu. Ia melihat adanya keunikan dan nilai budaya yang kuat dalam permainan tradisional tersebut. Hal ini mendorongnya untuk mengangkatnya ke dalam layar lebar melalui film Badut Gendong.
Film Badut Gendong sendiri merupakan karya yang menggabungkan unsur horor dan budaya tradisional Indonesia. Dengan latar belakang cerita yang diambil dari tradisi lokal, Charles berharap film ini dapat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda.
“Saya ingin penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya tradisional kita,” tambah Charles.
Proses kreatif pembuatan film ini melibatkan riset mendalam tentang berbagai tradisi dan kesenian daerah. Tim produksi berusaha menyajikan elemen budaya secara autentik agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton.
Film Badut Gendong dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun ini. Dengan cerita yang unik dan sentuhan budaya lokal, film ini diharapkan menjadi tontonan yang menarik dan bermakna.
Melalui pengalaman pribadinya di Solo, Charles Gozali berhasil menciptakan sebuah karakter yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sarat akan nilai-nilai budaya. Ini menjadi bukti bahwa tradisi dapat menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas dalam dunia perfilman.



