Viral di media sosial, klaim bahwa sarden bukan termasuk ultra processed food menuai perdebatan. Ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pun angkat bicara untuk memberikan klarifikasi.
Penjelasan Ahli Gizi UGM
Dr. Toto Sudargo, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, menjelaskan bahwa sarden termasuk dalam kategori processed food atau makanan olahan, bukan ultra processed food. Menurutnya, pengolahan sarden relatif sederhana, yaitu ikan sarden yang dikalengkan dengan tambahan bumbu dan saus. Proses ini tidak melibatkan bahan tambahan yang kompleks seperti pada ultra processed food.
Perbedaan Processed Food dan Ultra Processed Food
Dr. Toto menjelaskan bahwa processed food adalah makanan yang diolah dengan cara pengalengan, pembekuan, atau fermentasi untuk memperpanjang masa simpan. Sementara itu, ultra processed food adalah makanan yang melalui proses industri berat dengan tambahan bahan kimia, pengawet, pewarna, dan perasa buatan. Contoh ultra processed food adalah mi instan, sosis, dan minuman bersoda.
- Sarden termasuk processed food karena hanya melalui pengalengan sederhana.
- Kandungan nutrisi sarden masih cukup baik, kaya akan protein dan omega-3.
- Namun, konsumsi sarden tetap perlu dibatasi karena kandungan garam yang cukup tinggi.
Tips Konsumsi Sarden yang Sehat
Ahli gizi UGM menyarankan agar sarden dikonsumsi dengan bijak. Pilihlah sarden yang rendah garam atau tanpa tambahan saus. Selain itu, imbangi dengan sayuran segar dan karbohidrat kompleks. Jangan jadikan sarden sebagai makanan utama setiap hari.
Viralnya klaim ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membaca label kemasan dan memahami klasifikasi makanan olahan. Dengan pengetahuan yang tepat, konsumen dapat membuat pilihan makanan yang lebih sehat.



