Gelombang panas ekstrem terus menyelimuti wilayah Eropa Barat dan Barat Daya sepanjang bulan Juli 2026. Fenomena ini diprediksi akan semakin meluas ke arah utara dan timur akibat terbentuknya fenomena heat dome atau kubah panas yang mengunci massa udara panas di atmosfer atas benua tersebut.
Penyebab Heat Dome
Sistem tekanan tinggi yang sangat stabil ini secara efektif memblokir masuknya udara laut yang lebih dingin dari Samudra Atlantik. Akibatnya, wilayah seperti Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) serta Perancis kini harus menghadapi lonjakan suhu udara yang ekstrem dan tekanan termal yang berkepanjangan.
Menurut laporan dari Severe Weather Europe pada Selasa (6/7/2026), kondisi ini disebabkan oleh pola sirkulasi atmosfer yang tidak biasa. Udara panas terperangkap di bawah lapisan tekanan tinggi, menciptakan efek rumah kaca yang memperkuat pemanasan di permukaan bumi.
Dampak di Semenanjung Iberia dan Perancis
Spanyol dan Portugal mencatat suhu di atas 45 derajat Celsius di beberapa kota, memicu peringatan kesehatan dan kebakaran hutan. Sementara itu, Perancis mengalami gelombang panas terparah dalam satu dekade terakhir, dengan suhu mencapai 42 derajat Celsius di bagian selatan. Pemerintah setempat mengaktifkan rencana darurat untuk melindungi kelompok rentan.
“Kami belum pernah melihat pola cuaca seperti ini dalam catatan sejarah modern,” kata Dr. Maria Fernandez, ahli meteorologi dari Universitas Barcelona, dikutip dari laporan tersebut. “Kombinasi heat dome dan perubahan iklim membuat situasi semakin kritis.”
Prospek ke Depan
Model prediksi menunjukkan bahwa heat dome akan bergerak ke arah utara dan timur dalam beberapa pekan mendatang, berpotensi mempengaruhi Jerman, Polandia, dan negara-negara Skandinavia. Para ilmuwan memperingatkan bahwa frekuensi heat dome dapat meningkat akibat pemanasan global, sehingga negara-negara Eropa perlu bersiap menghadapi musim panas yang lebih ekstrem di masa depan.



