Kisah Kapten Kapal Indonesia Disandera Bajak Laut Somalia, Negosiasi Tebusan Berlangsung
Kapten Kapal RI Disandera Bajak Laut Somalia

Genap sepekan, empat warga negara Indonesia menjadi sandera bajak laut Somalia yang memulai penyergapan pada Selasa (21/04). Negosiasi uang tebusan sedang berlangsung, menurut pihak keluarga. Sejauh ini, Kementerian Luar Negeri mengklaim terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia.

Detik-detik Penyergapan dalam Pesan Suara

Isi kepala Santi Sanaya masih terus dibayang-bayangi nasib suaminya, Ashari Samadikun, yang saat ini terombang-ambing di lautan dengan pengawasan ketat 30 bajak laut Somalia bersenjata. Ashari, sebagai kapten kapal tanker MT Honour 25, bersama krunya dikabarkan disandera saat berlayar dari Oman menuju Somalia sejak Selasa malam (21/04). Saat detik-detik pengepungan, Ashari sempat menghubungi Santi bahwa timnya dalam situasi bahaya.

Telepon genggam Santi berdering dan muncul notifikasi pesan suara melalui WhatsApp dari Ashari pada Selasa (21/04) sekitar pukul 19.30 WITA. Pesan suaranya: kapal sedang diserang bajak laut. Tanpa pikir panjang, Santi segera menghubungi balik. Nada sela muncul, tetapi tak ada respons. "Terus selang beberapa jam, sudah tidak aktif hpnya. Betul-betul putus komunikasiku sama dia [Ashari]," lirih perempuan 26 tahun saat ditemui di rumahnya di Desa Pacellekang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, Senin (27/04).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Komposisi Kru Kapal

Kapal tanker MT Honour 25 berisi 17 pelaut. Mereka terdiri dari empat WNI yaitu, Ashari Samadikun selaku kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Adi Faizal selaku 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, dan Fiki Mutakin asal Bogor. Sisanya, 11 warga Pakistan, satu warga Sri Lanka, dan satu warga India.

Momen Menegangkan: 'Assalamualaikum, Jangan Tembak Saya'

Ponsel Ashari dan krunya disita perompak sejak hari pertama penyergapan. Namun, pada Jumat (24/04), Ashari diberi kesempatan oleh kelompok perompak menggunakan telepon kapal untuk menghubungi perusahaan dan keluarganya. Dalam momen itu, Ashari bercerita banyak kepada Santi tentang hal-hal mengerikan yang terjadi selama penyergapan, termasuk "beberapa kali ditodong senjata". Saat situasi sudah terkepung, Ashari mencoba menenangkan para perompak dengan mengatakan dirinya 'seorang Muslim'.

"Suamiku sempat sambut [perompak] dengan 'Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya Muslim'," kata Santi menirukan perkataan Ashari. "Terus itu perompak juga bilang 'kau Muslim ya?' Suami saya bilang 'iya'. Terus itu perompak juga bilang 'saya juga Muslim'," tambah Santi yang meyakini status agama ini penting di situasi yang mencekam.

Komunikasi Terakhir dan Kondisi Sandera

Pasangan suami-istri yang telah dikaruniai dua orang putri ini terakhir berkomunikasi pada Minggu malam (26/04). Santi bilang, suaminya mengabarkan para perompak sedang bernegosiasi dengan pihak perusahaan untuk meminta uang tebusan. "Setelah itu suami saya bilang jangan hubungi saya lagi maupun di HP kapal karena takutnya nanti perompak yang pegang hpnya," katanya.

Selama sepekan disandera, lanjut Santi, Ashari dan teman-temannya dalam kondisi sehat. Mereka masih diberi makan dan diizinkan beribadah. "Cuma itu kapan merasa perompaknya terancam akan diserang itu tiba-tiba semuanya [akan kembali] mencekam. Karena suamiku sempat beberapa kali ditodong senjata sama perompak," katanya. Dalam satu kesempatan panggilan video, Ashari menunjukkan beberapa bagian kapal terdapat bekas peluru tembakan.

Kronologi Penyergapan

Menurut penuturan Santi, suaminya baru mengetahui serangan perompak setelah sekitar 15 orang bersenjata api sudah naik di atas kapal. "Setelah itu disuruh semua kumpul hpnya. Ditahan semua," terang Santi. Santi menerangkan sebelum Ashari berangkat ke Somalia, dia sempat bertanya ke suaminya apakah di sana akan ada yang kawal. "Karena kan saya juga tahu kalau Somalia biasanya beredar itu rawan pembajakan. Jadi saya bilang bagaimana apakah ada pengawalan dari office, perusahaan? Terus dia [Ashari] bilang tidak ada," jelas Santi. Namun, Ashari dapat meyakinkan istrinya jika kapal tanker yang dikemudikannya itu mengangkut muatan minyak milik pemerintah. "Jadi Insya Allah tidak ada apa-apa."

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Saat ini, kata Santi, Ashari dan teman-temannya dibawa ke dekat markas para perompak yang jaraknya sekitar tiga mil dari pantai. Mereka diawasi dengan ketat. "Kurang lebih 30 orang sekarang perompaknya karena memang sudah dekat dengan markasnya," katanya. "Rekan suami saya, termasuk angkatannya sangat membantu dengan adanya masalah ini. Hari ini juga temannya di Jakarta mau ke Kemenlu untuk mengadukan insiden ini."

Santi berharap pemerintah tidak tinggal diam dalam peristiwa ini. "Semoga pemerintah bisa membantu, terutama pak Presiden Prabowo. Semoga suami saya dan kru lain termasuk orang di antaranya warga Indonesia dibantu kepulangannya ke Indonesia semua dalam keadaan selamat dan sehat, tidak kurang satu apapun."

Jejak Pelayaran Kapal

Menurut situs web ShipAtlas, kapal yang dibajak tersebut berangkat pada 20 Februari dari pelabuhan Berbera, di Republik Somaliland, wilayah otonom yang memproklamasikan diri sebagai negara, meski belum diakui secara internasional. Kemudian, kapal tiba di dekat pantai Uni Emirat Arab tak lama setelah konflik Timur-Tengah dimulai. Peta pelayaran kemudian menunjukkan kapal tersebut berputar-putar di perairan dekat pintu masuk Selat Hormuz sebelum berbalik arah pada tanggal 2 April dan menuju ke Mogadishu, Somalia.

Kapten yang Bertanggung Jawab

Menurut Santi, Ashari merupakan sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Hal ini diklaimnya dengan sikap Ashari masih sempat memikirkan nasib teman-temannya yang lain saat peristiwa perompakan kapal tanker MT Honor 25 tersebut terjadi. "Saat ada insiden ini yang dia pikir itu teman-temannya, yang sebagian besar tidak tahu keluarganya soal [kejadian] ini. Makanya itu yang bikin saya salut sama suamiku karena di tengah-tengah kondisinya juga yang terancam di atas kapal dia sempat memikirkan anggota-anggotanya dan keluarganya," terang Santi.

Langkah Pemerintah

Kementerian Luar Negeri RI membenarkan adanya empat WNI yang ditawan bajak laut Somalia. Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah mengaku telah menindaklanjuti laporan dari kapal MT Honour 25 yang dibajak di perairan sekitar Hafun, Somalia pada Rabu kemarin (22/04). "KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia," katanya seperti dikutip ANTARA, Senin (27/04). Koordinasi ini, kata dia, melibatkan otoritas pemerintah setempat, tokoh masyarakat dan pelaku usaha terkait. KBRI Nairobi memantau perkembangan situasi untuk memastikan proses penanganan berjalan optimal dengan tetap mengedepankan keselamatan para ABK WNI, kata Heni.

Pendekatan Baru Lewat Ormas Islam

Ada sejumlah pendekatan yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjamin keselamatan bahkan pembebasan empat WNI yang disandera, kata Peneliti Hubungan Internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Athiqah Nur Alami. Pertama, diplomasi antara negara secara langsung Indonesia-Somalia. Kedua, melakukan penekanan terhadap perusahaan pemilik kapal agar "tidak lepas tangan" saat ABK mereka menjadi sandera. Honour 25 merupakan kapal berbendera negara Palau, sebuah negara kepulauan di Samudera Pasifik Barat. Saat berlayar, kapal ini membawa 18.500 barel minyak. Penyitaan kapal tanker yang sedang menuju ibu kota Somalia, Mogadishu, kemungkinan akan meningkatkan kecemasan di kota tersebut, di mana harga bensin saat ini melonjak tiga kali lipat sejak dimulainya perang AS-Israel dengan Iran.

Ketiga, "pendekatan baru" dapat dilakukan melalui apa yang Athiqah sebut sebagai "faith-based diplomacy" atau pendekatan diplomasi yang melibatkan aktor, nilai, dan jaringan keagamaan dalam upaya perdamaian, resolusi konflik, kemanusiaan, dan dialog lintas budaya. Tidak mustahil, karena menurut Athiqah, Indonesia punya kedekatan dalam keyakinan di mana hampir 100% penduduk Somalia beragama Islam Sunni. "Ini kan seringkali masalahnya tadi tidak cukup hanya di tingkat negara sehingga perlu ada jalur-jalur yang sifatnya informal. Lewat jalur tokoh agama atau tokoh masyarakat. Antara mungkin ormas kita di sini, ormas keagamaan," katanya.

Ditengarai Muncul karena Konflik Global

Menurut Athiqah, kemunculan insiden bajak laut di perairan Somalia baru-baru ini masih disebabkan faktor klasik: ekonomi-sosial-politik di Somalia yang "pelik". Kemunculan bajak laut Somalia disebabkan lemahnya tata kelola pemerintahan, kemiskinan pesisir dan ketiadaan pekerjaan alternatif, penangkapan ikan ilegal di perairan Somalia, perompakan menjadi sebuah model industri, serta ketergantungan patroli laut internasional. "Itu yang mendorong mereka memanfaatkan geografinya untuk mengambil keuntungan dari bisnis kejahatan ini dengan perompak dan lain-lain," katanya.

Faktor lainnya, patroli laut internasional yang dianggap menjadi penghalau mujarab kejahatan perompak sedang terpecah konsentrasinya. "Karena kita tahu perhatian lagi banyak di Selat Hormuz, lalu di Ukraina atau bahkan di wilayah Timur Tengah lainnya, Lebanon, Palestina, dan yang lain, sehingga mungkin patrolinya tadi saya bilang mengendor," katanya.

Senada disampaikan pengamat dunia maritim, Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa. Dia bilang saat ini kelompok bajak laut Somalia "sedang sedikit banyak menikmati situasi geopolitik". Semua mata pemimpin negara sedang mengerahkan fokusnya pada geopolitik yang labil akibat perang AS-Israel dengan Iran. "Konsentrasi dunia saat ini ke arah sana sehingga memang terdapat potensi atau celah berkurangnya perhatian terkait dengan keamanan di perairan-perairan seperti Somalia," kata Capt. Hakeng.

Modus Lama, Peluang Baru

Menurut Capt. Hakeng, model pembajakan perompak Somalia tak banyak perubahan. Mereka banyak mengincar kapal tanker karena bagian dek kapal yang rendah sehingga mudah dipanjat. Dalam operasinya, para perompak menggunakan kapal induk besar yang mengangkut kapal kecil. Tujuannya, agar area targetnya bisa lebih luas bahkan di luar teritorial Somalia. "Mereka akan memonitor kapal-kapal target. Ketika kapal target lewat dan mendekat dan tidak menyadari memang hanya ada kapal yang besar, dan lokasinya juga agak jauh, baru dilakukan intercept (penangkapan) dengan kapal yang lebih kecil," katanya. Tentunya, sumber daya besar ini membutuhkan modal besar sehingga, Capt. Hakeng menyebut perompakan Somalia sebagai "model bisnis" yang dilakukan secara profesional. Beda dengan bajak laut di wilayah lain seperti Selat Malaka yang bermodalkan kapal kecil dengan mengandalkan pulau-pulau kecil tak berpenghuni sebagai markas. Selain itu, motif perompak juga tak berubah: meminta uang tebusan dari penculikan. Sebagaimana beberapa laporannya, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebut motif perompakan Somalia sebagai industri berbasis penculikan untuk mendapat tebusan, karena melibatkan jaringan terorganisasi dengan investor, negosiator, hingga penjaga sandera.

Capt. Hakeng mengusulkan sejumlah opsi pendekatan oleh pemerintah melalui diplomasi kepada negara asal kapal, tekanan lewat Organisasi Maritim Internasional (IMO), serta pelibatan asosiasi pelaut. Untuk jangka panjang, pelaut Indonesia juga perlu diperkuat dengan pedoman standar keamanan internasional di bawah IMO. Gunanya, mencegah kapal dari ancaman seperti terorisme, pembajakan, sabotase, dan kejahatan maritim lainnya melalui The International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code. "Agar mereka bisa melakukan precaution (langkah pencegahan) terkait dengan penanganan apabila melintasi perairan yang memang ada bajak laut," katanya.

Bukan Kasus Pertama Disandera Bajak Laut Somalia

Pada 2012, kapal FV Naham berbendera Taiwan yang mengangkut 26 kru, termasuk lima WNI disandera perompak Somalia. Empat tahun kemudian, lima dari empat WNI baru dibebaskan setelah perusahaan membayar uang jaminan kepada perompak. Satu WNI meninggal karena sakit. Selama penyanderaan, para penyintas menceritakan krisis kemanusiaan yang mereka alami, termasuk dalam menerima air bersih. "(Air minum yang diberikan) tidak sampai 500 ml sehari. Air mentah yang kadang-kadang kalau diterima ada kotoran untanya, kotoran kambingnya. Saya sih daripada dimasak, mending tidak usah dimasak, sama saja. Kalau dimasak airnya makin bau. Kalau kita tutup (gelasnya), kita ingin menolak kembali, memuntahkan air itu kembali," kata seorang penyintas. Mereka juga memberi kesaksian, para perompak Somalia sangat mudah tersinggung. Persoalan buang air besar, bahkan bisa berujung pada penembakan.

Kasus penyanderaan lain terjadi pada 2011 saat kapal kargo MV Sinar Kudus disandera perompak Somalia. Bedanya, MV Sinar Kudus berbendera Indonesia dengan awak kapal sebanyak 20 WNI. Dalam kasus ini, pasukan militer Indonesia dikerahkan dalam misi luar negeri pertama penyelamatan sandera. Operasi ini berhasil menyelamatkan seluruh awak kapal, tanpa korban jiwa setelah penyanderaan berlangsung selama 1,5 bulan.

Maritim Kerajaan Bersatu Menaikkan Level Tingkat Ancaman

Di tengah situasi ini, Badan Operasi Perdagangan Maritim Kerajaan Bersatu (UKMTO) menaikkan tingkat ancaman di perairan Somalia menjadi "substansial". Menurut catatan UKMTO, setidaknya empat kapal telah menjadi sasaran dalam insiden pembajakan yang diduga terjadi dalam seminggu terakhir, termasuk sebuah kapal ikan, dan tanker pengangkut minyak Honour 25. "Karena meningkatnya ancaman kemungkinan aktivitas PAG (Pirate Action Group), kapal-kapal disarankan untuk melintas dengan hati-hati," kata UKMTO dalam sebuah pernyataan, seraya mencatat bahwa cuaca mendukung untuk operasi kapal kecil.

Sampai tiga tahun lalu, pembajakan hampir lenyap di wilayah Samudra Hindia yang dulunya terkenal dengan aksi pembajakan kapal, tetapi kini telah kembali marak. Serangan bajak laut Somalia yang sempat mencapai puncak pada 2007-2012 kini kembali menjadi ancaman baru meskipun intensitasnya masih rendah. Biro Maritim Internasional (IMB) mencatat periode tersebut, kejadian perompakan didominasi pembajakan kapal-kapal besar seperti tanker dan kapal curah (bulk carrier), yang kemudian dibawa ke pesisir Somalia untuk negosiasi tebusan jangka panjang bernilai jutaan dolar. Laporan IMB dan Dewan Keamanan PBB menilai penurunan drastis pasca-2012 lebih disebabkan masifnya patroli internasional, bukan karena akar masalah di Somalia selesai ditangani: ekonomi-politik-sosial.

Lebih dari satu dekade, PBB mengambil langkah kerjasama internasional untuk menekan angka kejahatan bajak laut, misalnya penguatan pemerintahan. Namun, badan ini masih melihat kerapuhan dan potensi kejahatan yang kembali muncul. "Perserikatan Bangsa-Bangsa terus memberikan dukungan politik bagi proses perdamaian di Somalia dan mendorong fase baru kerja sama dengan komunitas internasional. Meskipun banyak yang telah dicapai, kemajuan yang telah diraih dapat berbalik arah," tulis pernyataan PBB.

Bagaimanapun, berdasarkan laporan terbaru IMB insiden bajak laut kembali mencuat dalam dua tahun terakhir, meskipun intensitasnya tidak setinggi pada periode puncak 2007-2012. IMB mencatat, insiden terakhir terjadi pada 25 Maret 2026, sebuah kapal layar berbendera Iran, Al Waseemi 786, diserbu dan dibajak perompak saat sedang berlayar sekitar 400 mil laut di sebelah timur Mogadishu, Somalia. "Para perompak tersebut kemungkinan akan menggunakan kapal yang dibajak tersebut sebagai kapal induk," tulis IMB. Lalu pada 26 Februari 2026, upaya pembajakan terjadi saat sebuah kapal berbendera Iran sedang berlayar sekitar 15,5 mil laut sebelah timur-tenggara Garmaal, Somalia. Kapal tersebut coba didekati dua perahu kecil yang diduga berisi perompak. Namun, upaya kelompok kriminal naik ke kapal digagalkan dengan langkah pertahanan. Dilaporkan satu orang yang diduga sebagai perompak tewas dan dua lainnya terluka selama insiden tersebut.

Dalam laporannya, IMB menekankan kehadiran angkatan laut multinasional dan penerapan Best Management Practices (BMP) masih menjadi faktor utama yang mencegah terjadinya kebangkitan besar pembajakan Somalia. Antara tahun 2005 dan 2012, para perompak di lepas pantai bagian Afrika Timur ini meraup keuntungan antara $339 juta (Rp5,8 triliun) hingga $413 juta (Rp7,1 triliun) dengan menyandera anggota kru dan menuntut uang tebusan, menurut perkiraan Bank Dunia.

Kembali ke Keluarga Ashari

Kembali ke keluarga Ashari di Sulawesi Selatan yang masih menanti kepulangan anggota keluarganya yang disekap bajak laut. Dari kacamata keluarga besarnya, Ashari merupakan orang yang sangat peduli dengan keluarga. "Sering bertanya soal keadaan keluarganya kalau dia sudah pergi, tanya anak-anak, terutama pada ibunya. Selalu," kata Syamsuddin Dg Ngawing. Sebagaimana anggota keluarga lainnya, pria berusia 67 tahun sangat khawatir dengan keselamatan Ashari dan krunya. "Yang sangat saya khawatirkan ketika ada diskomunikasi antara satu sama lain di negara sana. Jangan sampai terjadi konflik," katanya.

"Yang kami harapkan itu tentu kehadirannya bisa kembali lagi kumpul bersama keluarga. Apalagi mengingat saya mau wisuda, terus mau lebaran [haji]. Semoga bisa kumpul lagi seperti semua," kata Ulul Azmi yang selama ini biaya kuliahnya ditanggung kakaknya, Ashari. Meski belum tahu nasib ke depannya, pihak keluarga sudah punya nazar menyambut kepulangan Ashari dengan selamat. "Insyaallah saya akan kumpul bareng dengan keluarga untuk menyambut kedatangannya dengan suka cita," kata Syamsuddin.