Gunung Semeru mengalami erupsi yang disertai dengan awan panas guguran pada Sabtu (16/5) malam. Gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur ini menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan.
Kronologi Erupsi
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, melaporkan bahwa erupsi pertama terjadi pada pukul 19.04 WIB. Kolom letusan teramati setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 5 menit 16 detik.
Erupsi tersebut juga disertai awan panas guguran, namun jarak luncur tidak teramati karena lereng Gunung Semeru tertutup kabut. Kemudian, pada pukul 20.30 WIB, terjadi erupsi kembali dengan tinggi kolom yang tidak teramati, tetapi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 171 detik.
Status Siaga dan Imbauan
Saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada status Level III (Siaga). Berdasarkan rekomendasi, masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar. Masyarakat diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.



