Kisah Pilu Relawan Flotilla Ditangkap Israel: Diborgol dan Dipukuli
Kisah Pilu Relawan Flotilla Ditangkap Israel

Istanbul - Seluruh relawan Global Sumud Flotilla (GSF) telah tiba di Istanbul, Turki, setelah dideportasi dari Israel. Julien Cabral (57), seorang pria asal Belgia, menceritakan pengalaman pahitnya selama ditahan oleh otoritas Israel.

Menurut laporan AFP pada Jumat (22/5/2026), Cabral berlayar dengan kapal kecil bersama enam orang lainnya, termasuk warga negara Italia, Malaysia, Finlandia, Kanada, Afrika Selatan, dan Belgia. Sekitar 10 anggota pasukan Israel mencegat mereka di perairan internasional, lebih dari 500 kilometer (310 mil) dari pantai Israel pada Senin (18/5).

Insiden Pencegatan yang Brutal

"Mereka pertama-tama mengganggu komunikasi, kemudian naik ke kapal di siang bolong dengan senjata dan menembakkan peluru plastik hanya untuk bersenang-senang," kata Cabral. Ia menambahkan, "Kami adalah kapal ke-12 yang dicegat. Kami terkejut. Ada banyak kapal korvet di sekitar kami. Mereka bergerak maju dengan sangat agresif meskipun kami semua mengangkat tangan."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Cabral kemudian tiba-tiba dipukul oleh seorang tentara Israel, menyebabkan lingkaran di sekitar matanya memar ungu. "Saya adalah wakil komandan di kapal itu. Kapten kami, seorang Italia, masih berdiri dan mereka langsung menargetkannya. Saya dipukul di pelipis kiri," ceritanya. "Kemudian mereka memindahkan kami dengan kekerasan, tangan kami diikat dengan tali plastik ke kapal penjara, ke dalam kontainer. Saya mendengar mereka berkata dalam bahasa Inggris, 'ayo bersenang-senang'."

Perlakuan Tidak Manusiawi di Kapal Penjara

Cabral menyebut bahwa para tahanan baru bertemu dokter setelah tiga hari. Namun, tentara Israel selalu menjawab "nanti, nanti" saat diminta bantuan medis. "Mereka menyita obat-obatan seseorang yang menderita epilepsi. Di atas kapal 'Sirius', tujuh orang mengalami 35 patah tulang," tambahnya.

Di atas kapal, para tentara Israel melemparkan kotak-kotak berisi roti dan air untuk para tahanan, "tetapi tidak dalam jumlah yang cukup". "Pasti ada 200 orang di antara kami... Kami meminta lebih banyak air, tisu toilet, tampon untuk para wanita. Kami harus meminta semuanya," sambungnya.

Para tahanan diturunkan dari kapal pada Rabu (20/5) dan dibawa dengan mobil tahanan yang sempit untuk dikurung di dekat Ashdod, Israel selatan. Cabral mengatakan borgolnya "terlalu ketat" dan para tahanan dipaksa membungkuk selama berjam-jam. "Kami tidak bisa melihat apa pun. Mereka menekan leher kami," katanya.

Kesaksian Relawan Turki

Warga negara Turki, Bilal Kitay, juga menceritakan pengalamannya. Ini adalah perjalanan keduanya bersama Global Sumud Flotilla. Ia menyebut pasukan Israel "jauh, jauh lebih brutal daripada yang sebelumnya".

"Mereka menyerang kami. Masing-masing dari kami dipukuli, perempuan dan laki-laki... Itulah yang dialami warga Palestina sepanjang waktu," katanya. "Sayangnya, mereka memperlakukan hewan mereka lebih baik. Hanya mereka yang menganggap diri mereka manusia," tambahnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga