Kru Ambulans di Jakbar Dikerjai Debt Collector, Malah Disuruh Tagih Utang
Kru Ambulans Dikerjai Debt Collector, Disuruh Tagih Utang

Kru Ambulans di Jakarta Barat Jadi Korban Prank Debt Collector yang Tak Bertanggung Jawab

Seorang kru ambulans di Jakarta Barat, Yoga Dwi Saputra, mengalami kejadian tak terduga usai menerima permintaan penjemputan pasien. Alih-alih menjalankan tugas kemanusiaan, Yoga dan rekannya justru menjadi korban prank atau keisengan dari seorang debt collector yang tak bertanggung jawab.

Orderan Fiktif yang Menyesatkan Tenaga Medis

Dalam rekaman video yang viral di media sosial, terlihat kru ambulans tersebut berkomunikasi dengan si penelepon yang meminta ambulans didatangkan. Namun, saat tiba di lokasi yang dituju, tidak ada pasien yang perlu ditangani. Sopir ambulans pun tampak kesal karena telah mengeluarkan bensin, tenaga, dan waktu dengan sia-sia.

"Bapak berarti melecehkan tenaga medis, pak," ujar sopir ambulans dengan nada kesal. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut sangat merugikan dan tidak menghargai profesi di bidang kesehatan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Permintaan Aneh untuk Menagih Utang

Yoga menceritakan bahwa awalnya ia menerima permintaan penjemputan melalui pesan WhatsApp pada Selasa (14/4/2026). Penelepon yang mengaku bernama Dobi memintanya menjemput 'pasien' di sebuah perkantoran di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

"Sampai situ, kata orang kantornya orangnya lagi nggak masuk, 'orangnya lagi gak masuk mas', dia bilang gitu," kata Yoga saat dihubungi wartawan.

Ketika Yoga menghubungi kembali si penelepon, ia justru diminta memberikan handphonenya kepada pihak yang diduga memiliki utang. "Minta dihubungkan ke orang yang di kantor itu. Suruh bayar utang, si Rudi siapa tuh ya namanya, ya udah begitu," imbuh Yoga.

Respons Mengejek dan Niat Melapor ke Polisi

Yoga merasa sangat kesal ketika menyadari bahwa orderan yang diterimanya ternyata fiktif. Ia sempat meminta ganti rugi untuk bensin yang telah digunakan, namun pemesan justru mengejeknya dengan tertawa.

"Iya (sempat minta ganti rugi), dia ngeledek doang itu, nggak ada (ganti rugi yang diberikan)," jelas Yoga dengan nada kecewa.

Akibat kejadian ini, Yoga berniat melaporkan peristiwa tersebut ke kepolisian. Apalagi, ini bukan pertama kalinya ia menerima orderan fiktif dari debt collector. "Ya rencana sih, saya sih mau lapor sih, mau lapor kalo ada yang mau iniin. Ya karena merugikan material juga ya. Dua kali, saya dua, dua kali. Yang pertama di Tanjung Pasir untuk pasien kontrol terus sampe sana tahunya nggak ada," pungkasnya.

Dampak Negatif bagi Layanan Kesehatan Darurat

Kejadian ini menyoroti betapa seriusnya dampak prank yang dilakukan oleh debt collector terhadap layanan kesehatan darurat. Tindakan semacam ini tidak hanya merugikan secara material, tetapi juga mengganggu operasional ambulans yang seharusnya digunakan untuk menolong orang yang benar-benar membutuhkan.

Prank yang dilakukan dengan memanfaatkan layanan ambulans menunjukkan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme tenaga medis. Hal ini patut menjadi perhatian bersama agar tidak terulang di masa depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga