Polri Buka Hotline dan Sistem Digital untuk Berantas Calo Rekrutmen
Polri Buka Hotline dan Sistem Digital Lawan Calo Rekrutmen

Polri Perkuat Pengawasan dengan Hotline dan Sistem Aduan Digital untuk Basmi Calo Rekrutmen

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) secara resmi membuka jalur pengaduan baru guna memberantas praktik percaloan dalam rekrutmen terpadu anggota kepolisian. Langkah ini diambil untuk memastikan proses seleksi berjalan bersih, transparan, dan bebas dari manipulasi.

Mekanisme Pengaduan yang Terbuka dan Terjamin

Wakil Inspektur Pengawasan Umum (Wairwasum) Polri, Irjen Merdisyam, menegaskan bahwa pengawasan rekrutmen telah diperketat sejak tahap awal. Polri menggandeng pengawas internal dan eksternal untuk menciptakan sistem yang akuntabel. Masyarakat diminta tidak ragu melaporkan setiap kecurangan, dengan jaminan bahwa setiap aduan akan diproses secara serius.

"Kita membuka pengaduan. Jika ada masyarakat yang menemukan tawaran-tawaran mencurigakan, adukan! Kita secara terbuka menyediakan kanal seperti Dumas di Inspektorat maupun Propam," kata Merdisyam di Polda Metro Jaya, Jumat (10/4/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Transparansi dan Teknologi dalam Seleksi

Seluruh tahapan seleksi digelar dengan prinsip keterbukaan, termasuk sistem "one day service" yang memungkinkan peserta langsung mengetahui hasil. Skema ini dirancang untuk menutup celah permainan tidak fair. Selain itu, Polri menyiapkan berbagai kanal pelaporan, mulai dari Inspektorat dan Propam hingga sistem digital berbasis pemindaian kode.

"Ini salah satu bentuk upaya dari Mabes Polri. Kalaupun tidak mau mengadu secara langsung, bisa melalui scan kode," ujar Merdisyam. Dia menjamin setiap laporan akan ditindaklanjuti untuk mencegah praktik transaksional dan manipulatif dalam rekrutmen.

Keterlibatan Pihak Eksternal untuk Akuntabilitas

Pengawasan ini juga melibatkan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) serta pihak eksternal lain seperti Dukcapil, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), psikolog, universitas, dan LSM. Tujuannya adalah menjaga akuntabilitas dan membuka ruang partisipasi publik.

Ketua Harian Kompolnas Arief Wicaksono Sudiutomo menyatakan, keterlibatan pihak eksternal bertujuan menciptakan nilai tambah dalam proses yang bersih, transparan, akuntabel, dan humanis. Masyarakat, termasuk keluarga peserta, dapat memanfaatkan platform yang disiapkan untuk menyampaikan keluhan selama seleksi.

Peringatan Keras terhadap Janji Kelulusan Palsu

Anggota Kompolnas Mohammad Choirul Anam atau Cak Anam mengingatkan masyarakat agar tidak percaya pada janji kelulusan yang disertai permintaan uang. Dia menegaskan bahwa mekanisme seleksi sulit ditembus praktik curang.

"Kalau ada yang menjamin lolos dan minta duit, jangan pernah percaya," katanya. Anam mendorong peserta aktif mengawasi proses dan melaporkan kejanggalan kepada pihak berwenang, seperti Propam, Itwasda, Kompolnas, atau Itwasum.

Dengan langkah-langkah ini, Polri berkomitmen menciptakan rekrutmen yang bebas dari calo dan manipulasi, mengandalkan keterbukaan serta partisipasi masyarakat untuk mencapai hasil yang adil.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga