PRT Loncat dari Lantai 4 Kos di Jakpus, Sempat Curhat HP Disita Majikan
PRT Loncat dari Lantai 4 Kos di Jakpus, HP Disita Majikan

Polisi terus mendalami kasus dua pekerja rumah tangga (PRT) yang nekat melompat dari lantai empat sebuah bangunan indekos di Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat. Peristiwa yang terjadi pada Rabu (22/4) malam itu mengakibatkan satu orang tewas dan satu lainnya luka-luka.

Menurut keterangan warga, salah satu korban sempat mengungkapkan bahwa ponsel mereka disita oleh majikan. Nani (68), warga RT 005 RW 002, berada di lokasi setelah kedua korban—D (30) dan R (15)—jatuh. Ia mengatakan bahwa R masih sempat berbicara dan menceritakan soal ponsel mereka.

"Tadi menanyakan sama mbak yang satu lagi itu ya yang masih bisa diajak bicara, 'kamu HP-nya mana biar diamankan'. Nah dijawab itu, 'HP saya disita oleh bos perempuan atas suruhan bos laki-laki'," ujar Nani saat ditemui, Sabtu (25/4/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Nani menjelaskan bahwa saat ditemukan, kedua korban terkapar di tanah. Satu korban dalam posisi tengkurap lemas, sementara yang lain dalam posisi miring dan masih bisa berkomunikasi meski terbatas. "Yang satu merem saja, tapi kalau kita tidak tanya apa-apa dia tiba-tiba bilang 'Sakit Bu, Bu sakit'. Tangannya itu patah sampai (tulangnya) keluar," ungkap Nani.

Tas Berisi Pakaian Ditemukan

Warga juga menemukan beberapa tas berisi pakaian di dekat lokasi jatuhnya korban. "Ada baju-baju di dalam tas. Satu tas ransel, dua tas tenteng berisi baju-baju. Ada satu lagi baju kotor sepertinya," tambah Nani.

Nani yang pernah menjabat sebagai Ketua RT di lingkungan itu mengaku mengenal pemilik rumah kos berlantai empat tersebut. Ia menyebut pemilik kos pindah ke lokasi itu saat pandemi. Kesehariannya terlihat ramah, namun sangat tertutup dari aktivitas warga. Interaksi dengan tetangga pun minim. "Kalau kita di sini yang bertangga sebelahan itu tahu kalau tinggal di atas di lantai empat. Tapi tidak pernah berkomunikasi, nggak pernah," tutur Nani.

Pemilik rumah hanya menyapa sekadarnya jika berpapasan di jalan, biasanya hanya satu atau dua kata. "Dia mau menegur kalau papasan, dia baru negor satu kalimat satu kata saja 'Ibu' gitu aja. Saya jawabnya 'Oh iya' sudah. Nanti kalau dia mau masuk ke dalam 'Mari, Bu', saya jawab 'Iya silakan lewat'. Sudah itu aja," lanjutnya.

Nani mengaku tidak mengenal para asisten rumah tangga (ART) di rumah itu. Ia kaget dengan peristiwa nekat tersebut. Pemilik rumah kos juga tidak pernah terlibat dalam kegiatan rukun tetangga (RT) maupun sosialisasi antarwarga. "Tidak pernah ada, tidak pernah ikut, tidak pernah (ikut kegiatan warga). Mereka (seperti) terkunci di rumah. Untuk kegiatan 17-an segala, pasang bendera, itu nggak ada," pungkasnya.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu (22/4) malam. PRT berinisial D tewas dalam insiden tersebut, sementara R masih menjalani perawatan medis. Polisi saat ini menyelidiki kemungkinan adanya unsur pidana dalam kasus ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga