Remaja di Banjarnegara Terjaga Malam Demi 'Jam Jackpot' Judi Online
KOMPAS.com - Saat kebanyakan teman seusianya sudah terlelap, Andi (15, bukan nama sebenarnya) di Banjarnegara, Jawa Tengah, justru masih terjaga. Kadang ia sengaja bangun, namun lebih sering ia belum tidur sama sekali. Di malam hari, Andi menunggu apa yang ia sebut sebagai 'jam jackpot', biasanya sekitar pukul 12 malam hingga pukul 3 pagi. "Katanya kalau jam segitu peluang menang lebih besar," ujar siswa SMP di salah satu MTs di Banjarnegara dengan suara pelan saat ditemui Kompas.com, Jumat (15/5/2026).
Fenomena ini menunjukkan bagaimana judi online telah menjangkau kalangan remaja. Andi mengaku mulai bermain sejak beberapa bulan lalu setelah diajak teman. Awalnya hanya iseng, namun lambat laun ia merasa ketagihan. "Awalnya coba-coba, menang sedikit, terus pengen lagi," katanya.
Andi biasanya bermain menggunakan ponsel milik orang tuanya. Ia mengunduh aplikasi judi online yang tersedia di toko aplikasi. "Orang tua tidak tahu. Saya main kalau mereka sudah tidur," ujarnya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, berharap mendapatkan kemenangan besar.
Kebiasaan begadang ini berdampak pada kesehatannya. Andi sering mengantuk di sekolah dan nilainya menurun. "Saya jadi susah konsentrasi, sering ketiduran di kelas," akunya. Meski sadar dampak negatifnya, ia mengaku sulit berhenti. "Sudah coba berhenti, tapi kadang kepingin lagi," ujarnya.
Pihak sekolah belum mengetahui kebiasaan Andi. Namun, Kepala Sekolah MTs tersebut menyatakan akan melakukan sosialisasi tentang bahaya judi online. "Kami akan bekerja sama dengan orang tua untuk mengawasi anak-anak," ujarnya.
Pakar psikologi anak, Dr. Rina, mengatakan bahwa remaja rentan terhadap kecanduan judi online karena otak mereka masih berkembang. "Mereka lebih mudah terpengaruh oleh iming-iming kemenangan cepat. Perlu pengawasan ketat dari orang tua," jelasnya.
Kasus Andi diharapkan menjadi peringatan bagi orang tua dan sekolah untuk lebih waspada terhadap perjudian online di kalangan remaja.



