Arif (bukan nama sebenarnya) sesekali tersenyum kecut saat menceritakan pengalamannya bermain judi online selama hampir delapan tahun terakhir. Dalam wawancara daring dengan Kompas.com, pemuda berusia 25 tahun itu beberapa kali terdiam sebelum menjawab pertanyaan, terutama ketika membahas uang yang habis dan teguran dari orangtuanya.
Meski menyadari dirinya lebih sering kalah daripada menang, Arif mengaku masih kesulitan berhenti. "Ya susah berhentinya," ujarnya singkat, Sabtu (23/5/2026).
Kecanduan yang Berlarut-larut
Arif mulai bermain judi online sejak usia 17 tahun. Awalnya hanya iseng, namun lambat laun menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan. Ia mengaku sudah menghabiskan uang puluhan juta rupiah selama delapan tahun. Meskipun pernah menang, kekalahan jauh lebih sering terjadi.
"Saya sadar rugi, tapi entah kenapa susah berhenti. Rasanya ada dorongan untuk terus mencoba," kata Arif.
Dampak pada Kehidupan
Kecanduan judi online tidak hanya berdampak pada keuangan Arif, tetapi juga hubungan dengan keluarga. Orangtuanya sering menegur dan menasihati agar berhenti. Namun, teguran itu seolah tidak mempan. Arif mengaku pernah mencoba berhenti, tetapi selalu kambuh.
"Orang tua sudah marah-marah, tapi saya tetap main diam-diam. Saya malu, tapi tidak bisa berhenti," ujarnya.
Upaya Berhenti yang Gagal
Arif sudah beberapa kali mencoba berhenti, termasuk memblokir situs judi dan meminta bantuan teman. Namun, semua upaya itu gagal. Ia mengaku mudah tergoda untuk bermain lagi ketika ada waktu luang atau stres.
"Saya butuh bantuan profesional, tapi malu untuk menceritakan ke psikolog. Takut dihakimi," kata Arif.
Kisah Arif menjadi gambaran nyata betapa sulitnya lepas dari jerat judi online. Meski sadar akan kerugian, kecanduan membuat seseorang terus terjebak.



