Presiden Mahasiswa BEM IPB Tolak Kampus Jadi Dapur MBG
Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (BEM IPB) dengan tegas menolak rencana penggunaan kampus sebagai dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pernyataannya, ia meminta Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) untuk tidak terlalu memaksakan ide tersebut.
Alasan Penolakan
Menurut Presma BEM IPB, kampus bukanlah tempat yang tepat untuk dijadikan dapur produksi massal. Ia menekankan bahwa fungsi utama kampus adalah sebagai pusat pendidikan dan penelitian, bukan sebagai fasilitas produksi makanan.
“Kami khawatir jika kampus dijadikan dapur MBG, maka akan mengganggu aktivitas akademik dan penelitian yang sudah berjalan. Selain itu, infrastruktur kampus tidak dirancang untuk produksi makanan skala besar,” ujarnya.
Kritik terhadap Ketua BGN
Presma BEM IPB juga menyampaikan kritik langsung kepada Ketua BGN. Ia meminta agar kebijakan ini dikaji ulang dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk mahasiswa dan dosen.
“Jangan terlalu memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya. Kami berharap BGN lebih bijak dalam mengambil keputusan terkait program MBG,” tegasnya.
Respons Mahasiswa
Penolakan ini mendapat dukungan dari sejumlah mahasiswa IPB. Mereka menilai bahwa program MBG seharusnya dilaksanakan di tempat yang lebih sesuai, seperti pusat-pusat produksi pangan yang sudah ada.
Seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian menyatakan, “Kami setuju dengan pernyataan Presma. Kampus harus fokus pada pendidikan, bukan menjadi dapur umum.”
Harapan ke Depan
Presma BEM IPB berharap agar pemerintah, khususnya BGN, dapat mendengarkan aspirasi mahasiswa dan mencari alternatif lokasi yang lebih tepat untuk program MBG. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga fungsi kampus sebagai institusi akademik.
“Kami siap berdialog dengan BGN untuk mencari solusi terbaik, namun tetap dengan prinsip bahwa kampus tidak boleh dialihfungsikan secara sembarangan,” pungkasnya.



