Kekerasan Seksual di Kampus: Pola Berulang dan Representasi Media yang Terjebak
Kekerasan Seksual di Kampus: Pola Berulang dan Media

Kekerasan Seksual di Kampus: Pola Berulang dan Representasi Media yang Terjebak

Kasus kekerasan seksual yang kembali muncul di salah satu kampus di Indonesia belakangan ini, mengingatkan kita bahwa isu ini tidak pernah benar-benar hilang dari lingkungan pendidikan tinggi. Isu ini hanya berubah bentuk dan momentum, menunjukkan bahwa akar permasalahan masih belum terselesaikan secara tuntas.

Pola Siklus yang Tak Kunjung Berakhir

Seperti pola yang berulang, kasus kekerasan seksual tersebut menjadi viral di media sosial, lalu memicu kemarahan publik yang meluas, dan pada akhirnya perlahan tenggelam di tengah arus informasi baru yang terus bermunculan. Siklus ini sering kali membuat perhatian terhadap kasus tersebut hanya bersifat sementara, tanpa adanya solusi yang berkelanjutan.

Namun, yang sering terlewat dalam siklus ini bukan hanya peristiwanya itu sendiri, tetapi juga bagaimana kasus tersebut direpresentasikan dan dibahas di media. Alih-alih memperdalam pemahaman masyarakat tentang kompleksitas kekerasan seksual, pemberitaan dan diskursus yang beredar sering kali justru terjebak dalam pola lama yang tidak produktif.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Jebakan Representasi Media dalam Pemberitaan

Media sering kali fokus pada aspek sensasional dari kasus kekerasan seksual, seperti detail kejadian atau reaksi emosional, tanpa menyelami akar penyebab atau dampak jangka panjang bagi korban. Hal ini dapat mengaburkan esensi permasalahan dan mengurangi ruang untuk diskusi yang mendalam tentang pencegahan dan penanganan.

Diskursus publik yang terbentuk dari pemberitaan seperti ini cenderung bersifat reaktif dan berjangka pendek, sehingga upaya untuk menciptakan perubahan sistemik di kampus menjadi terhambat. Perlu ada evaluasi kritis terhadap cara media mengangkat isu kekerasan seksual, agar tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan berita, tetapi juga mendorong edukasi dan advokasi.

Dengan demikian, penting bagi semua pihak, termasuk media, akademisi, dan masyarakat, untuk keluar dari pola lama dan membangun pendekatan yang lebih holistik dalam menangani kekerasan seksual di kampus. Hanya dengan cara ini, isu ini dapat diatasi secara efektif dan tidak terus berulang di masa depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga