Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera terus menunjukkan progres signifikan dalam membersihkan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. Hingga 27 April 2026, sebanyak 658 lokasi yang sebelumnya tertimbun lumpur berhasil dibersihkan. Data ini mencakup tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Rincian Pembersihan di Tiga Provinsi
Di Aceh, sebanyak 607 dari 634 lokasi sasaran telah selesai dibersihkan. Sementara di Sumatera Utara, 22 dari 23 lokasi target sudah rampung. Adapun di Sumatera Barat, seluruh 29 lokasi sasaran telah bebas dari lumpur. Capaian ini meningkat signifikan dibandingkan 6 April 2026, yang baru mencapai 527 lokasi.
Prioritas Pembersihan dan Skema Cash for Work
Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pembersihan lumpur tetap menjadi prioritas utama. Proses ini melibatkan kolaborasi lintas kementerian, lembaga, serta praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Selain itu, skema cash for work atau padat karya tunai diterapkan dengan melibatkan warga setempat yang mendapat upah harian maupun bulanan.
"Persoalan di Aceh Tamiang sangat berat. Sekolah masih di tenda, puluhan kantor desa hancur, dan banyak lumpur belum selesai. Namun, kantor-kantor sudah dibersihkan oleh praja IPDN, TNI, dan Polri. Saat ini gelombang ketiga dengan 800 personel, setelah gelombang pertama 1.200 dan kedua 800. Alat berat juga disewa dari Kemendagri," ujar Tito dalam rapat kerja APEKSI di Banda Aceh, 20 April 2026.
Dua Tahap Pembersihan
Proses pembersihan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama fokus pada pembukaan akses jalan nasional yang telah rampung 100 persen dan fungsional sejak 25 Januari 2026. Tahap kedua menyasar pembersihan lumpur di sekolah, kawasan perkantoran, dan fasilitas umum seperti puskesmas serta masjid.
Tito menekankan bahwa pembersihan lumpur sangat krusial untuk memulihkan wilayah terdampak. Satgas PRR telah berhasil memulihkan berbagai fasilitas pemerintahan dan layanan publik yang sempat lumpuh akibat lumpur, terutama di daerah dengan dampak berat seperti Aceh Tamiang.



