Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) mengunjungi Lapas Narkotika Jakarta pada Kamis, 21 Mei 2026. Dalam kunjungan tersebut, terlihat sejumlah warga binaan tengah mengikuti pelatihan bersertifikat yang bertujuan agar keahlian mereka diakui dan diterima oleh masyarakat setelah bebas.
Pelatihan Bersertifikat untuk Warga Binaan
Kepala Lapas Narkotika Jakarta, Syarpani, menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung program pembinaan dan pelatihan kerja bagi warga binaan. Setelah mengikuti pelatihan, warga binaan mendapatkan sertifikasi sehingga kompetensi mereka diakui dan memiliki kemampuan wirausaha setelah bebas.
"Satu contoh, kami bekerja sama dengan HIPMI dan Kadin untuk mengadakan seminar kewirausahaan bagi warga binaan. Sebagai Kalapas, saya memiliki slogan, 'Dari binaan menjadi entrepreneur'. Saya berharap narapidana yang dididik dan dilatih memiliki kemampuan wirausaha setelah bebas," ujar Syarpani.
Ia menambahkan bahwa warga binaan tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga memiliki jaringan dengan direktur, dan melalui HIPMI Bank BRI, mereka bisa mengajukan kredit usaha rakyat. "Ketika bebas, orang-orang yang sudah diberi pelatihan bersertifikat ini punya kemampuan," imbuhnya.
Pelatihan Menjahit dan Produksi Garmen
Syarpani mengatakan sekitar 160 warga binaan telah memperoleh sertifikasi dari pelatihan menjahit. Lapas bekerja sama dengan perusahaan tekstil atau garmen untuk mempekerjakan warga binaan bersertifikat di dalam lapas. Produksi pakaian hasil jahitan warga binaan dijual ke seluruh lapas dan rutan di Indonesia serta sejumlah toko ritel.
"Kami di garmen ini menerima pesanan baju koko, baju seragam pramuka, seragam bagi narapidana, lapas dan rutan seluruh Indonesia. Bahkan ada order dari Ramayana untuk celana panjang. Kami bisa menjahit seribu kaos setiap hari," kata Syarpani.
Peternakan Ayam dan Pembuatan Roti
Selain menjahit, terdapat pelatihan peternakan ayam dan pembuatan roti. Lapas bekerja sama dengan PT Cakrawala Langit Persada yang memproduksi roti untuk didistribusikan ke lapas dan rutan di Jakarta setiap hari melalui koperasi.
Detikcom berkesempatan mengunjungi lokasi pelatihan. Di ruangan menjahit, warga binaan fokus menjahit dengan mesin jahit listrik, menyelesaikan pola hingga menjadi pakaian. Pelatih memantau pekerjaan, sementara petugas memastikan aktivitas berjalan sesuai aturan.
Kandang Ayam Petelur dan Kerajinan Tangan
Di luar ruangan, kandang ayam berisi 1.700 ayam petelur diurus tiga warga binaan. Setiap hari dihasilkan sekitar 1.600 butir telur yang dimanfaatkan untuk Lapas dan Rutan Narkotika Jakarta. Di gedung yang sama, warga binaan membuat kerajinan plakat kayu berukir, dan terlihat pakaian jadi hasil jahitan.
Harapan Warga Binaan
Seorang warga binaan berinisial MT mengaku senang mengikuti pelatihan mengurus ayam. Ia berharap ilmu yang didapat bermanfaat setelah bebas. "Kenapa ikut pelatihan ngurus ayam, karena saya yang ingin. Rasanya seperti punya sendiri. Saya lebih senang dan semangat, memberi makan setiap hari ada kenikmatan sendiri," kata MT.
"Semoga ketika saya bebas, ada orang yang memberi kesempatan untuk dipercaya mengurus budi daya ayam seperti ini," imbuhnya.



