Pemprov Jateng Gandeng Banyak Pihak untuk Percepat Pemulihan Banjir Demak
Pemprov Jateng Gandeng Pihak untuk Pemulihan Banjir Demak

Pemprov Jateng Gandeng Berbagai Pihak untuk Kebut Pemulihan Banjir Demak

Banjir yang melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah, akibat jebolnya Sungai Tuntang di tiga titik pada Jumat lalu (3/4) telah menyebabkan kerusakan signifikan. Sembilan desa di empat kecamatan terendam, berdampak pada 5.148 jiwa, dengan 2.867 jiwa sempat mengungsi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini mengambil langkah cepat untuk menangani situasi ini, mulai dari fase darurat hingga pemulihan dan pencegahan jangka panjang.

Peninjauan Langsung dan Koordinasi Intensif

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meninjau langsung lokasi terparah di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, pada Selasa (7/4). Dalam kunjungannya, ia menekankan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendirian oleh satu pihak. "Sudah kita asesmen. Tinggal kita petakan lagi secara detail, kita hitung kebutuhannya apa saja. Penanganannya tidak bisa sendiri, harus bersama-sama antara kabupaten, provinsi, dan juga pemerintah pusat," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Untuk mempercepat proses pemulihan, Pemprov Jateng menggandeng berbagai pihak, termasuk pemerintah kabupaten, pemerintah pusat, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan Palang Merah Indonesia (PMI). Tenaga perbaikan juga akan melibatkan relawan dari organisasi kemasyarakatan, seperti Banser dari Ansor Jawa Tengah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Bantuan Mulai Disalurkan dan Kondisi Korban

Sejumlah bantuan telah mulai mengalir ke warga terdampak. Bantuan tersebut meliputi:

  • Program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 7 unit.
  • 127 paket sembako dari Baznas Jateng.
  • Bantuan senilai Rp 10.065.500 dari PMI Jateng.

Warga seperti Ma'arif (39) mulai merasakan dampak positif dari bantuan ini. "Alhamdulillah bantuan sudah mulai terasa. Dari nasi bungkus, listrik sudah nyala, air bersih juga ada, sampai pembersihan lumpur," katanya. Namun, kerusakan yang dialami masih parah. Rumah Ma'arif rusak sekitar 40 persen, sementara rumah orang tuanya hanyut tanpa sisa beserta sebagian besar isinya. "Kalau rumah kayu seperti kami, satu unit bisa sekitar Rp 80 juta. Itu belum isinya," tambahnya.

Selain perbaikan rumah, warga masih membutuhkan bantuan untuk pencarian puing bangunan yang tertimbun lumpur. Meski sebagian wilayah sudah surut, satu titik tanggul yang belum sepenuhnya tertutup sempat kembali melimpas dan menggenangi Dukuh Solondoko, sehingga perbaikan darurat langsung dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan air.

Fokus pada Pencegahan Jangka Panjang

Taj Yasin menegaskan komitmen pemerintah untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan. "Yang paling utama adalah memastikan banjir ini tidak terjadi lagi. Itu yang sedang kita siapkan penanganannya secara menyeluruh," pungkasnya. Pembenahan sistem pengendalian banjir akan menjadi fokus utama, dengan melibatkan berbagai pihak dalam perencanaan dan implementasi.

Dari total 5.148 jiwa terdampak, kini hanya tersisa 12 jiwa yang masih mengungsi di Madin Sindon. Upaya pemulihan terus berlanjut dengan harapan dapat segera mengembalikan kondisi normal bagi warga Demak.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga