Otoritas Iran membuat pengecualian untuk sejumlah negara yang disebutnya "negara sahabat" dalam memungut tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Rusia menjadi salah satu negara yang menerima pengecualian pungutan tarif Iran tersebut.
Pernyataan Dubes Iran untuk Rusia
Hal ini diungkapkan oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, saat berbicara kepada kantor berita Rusia, RIA Novosti pada Jumat (24/4) waktu setempat. Jalali mengatakan bahwa Iran berupaya menerapkan pengecualian untuk negara-negara sahabat, seperti Rusia.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, Kementerian Luar Negeri kami saat ini sedang berupaya menerapkan pengecualian ini untuk negara-negara sahabat, seperti Rusia," ujar Jalali.
Pendapatan Pertama dari Pungutan Tarif
Pernyataan Dubes Iran ini disampaikan setelah Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengatakan bahwa pemerintahannya telah menerima pendapatan pertama dari pungutan tarif yang dikenakan bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. "Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral," kata Hajibabaei, seperti dikutip kantor berita Iran, Tasnim dan dilansir AFP.
Media Iran lainnya juga menyampaikan pernyataan yang sama, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Latar Belakang Pemberlakuan Tarif
Pada 8 April lalu, media terkemuka AS Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa Iran memperketat cengkeramannya terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Teheran, sebut WSJ, memerintahkan kapal-kapal untuk mengatur pembayaran tarif Selat Hormuz di muka dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan membayar dengan mata uang kripto atau mata uang China, Yuan.
Sebelumnya pada 19 Maret lalu, laporan kantor berita ISNA menyebut Iran sedang mempertimbangkan undang-undang yang akan mewajibkan negara-negara untuk membayar tarif bagi kapal-kapal yang melintasi koridor maritim strategis tersebut.
Dampak Konflik Terhadap Pelayaran
Pelayaran melalui Selat Hormuz telah sangat terganggu sejak perang berkecamuk antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu. Langkah Teheran membatasi aktivitas perlintasan di selat tersebut telah mengguncang pasar energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan kerusakan ekonomi yang berkepanjangan.
Dengan adanya pengecualian bagi Rusia, Iran menunjukkan sikap selektif dalam penerapan kebijakan tarifnya. Langkah ini dinilai sebagai upaya mempertahankan hubungan baik dengan negara-negara sahabat di tengah tekanan internasional.



