Pakistan Usulkan Rencana Dua Tahap untuk Akhiri Perang AS-Israel di Iran dan Buka Kembali Selat Hormuz
Jakarta - Pakistan telah mengajukan proposal diplomatik yang ambisius berupa rencana dua tahap untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Israel di Iran serta membuka kembali Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan minyak global. Kedua pihak yang bertikai dilaporkan sedang mempertimbangkan kerangka kerja tersebut dengan serius.
Pengakuan Resmi dari Iran
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, secara terbuka mengakui upaya diplomatik yang dilakukan oleh Pakistan. "Pakistan telah berbagi rencana komprehensif dengan Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri permusuhan yang sedang berlangsung," jelas Baghaei seperti dikutip dari laporan Reuters. Ia menambahkan bahwa dalam situasi saat ini, Iran tetap fokus pada perlindungan keamanan nasionalnya di tengah serangan terbaru dari AS dan Israel.
Serangan tersebut terjadi sebelumnya di mana sebuah universitas terkemuka di Teheran dan Pabrik Petrokimia South Pars di Asaluyeh menjadi target bom pada hari Senin. Tragedi ini menewaskan sedikitnya 34 orang warga sipil di wilayah Iran.
Detil Proposal "Kesepakatan Islamabad"
Menurut informasi eksklusif yang pertama kali dilaporkan oleh Axios pada hari Minggu, Amerika Serikat, Iran, dan mediator regional sedang membahas potensi gencatan senjata selama 45 hari. Ini merupakan bagian dari "kesepakatan dua tahap" yang diharapkan dapat mengarah pada penghentian permanen permusuhan militer.
Sebuah sumber terpercaya yang dikutip oleh Reuters mengungkapkan bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, telah melakukan kontak diplomatik "sepanjang malam" dengan Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. "Semua elemen penting dalam proposal ini perlu disepakati hari ini," tegas sumber tersebut dengan nada mendesak.
Mekanisme dan Timeline Implementasi
Pemahaman awal antara pihak-pihak yang terlibat rencananya akan disusun sebagai nota kesepahaman yang diselesaikan secara elektronik melalui Pakistan. Negara ini berperan sebagai satu-satunya saluran komunikasi resmi dalam pembicaraan multilateral yang sensitif ini.
Berdasarkan proposal yang diajukan, gencatan senjata akan berlaku segera setelah kesepakatan ditandatangani, dengan imbalan pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal. Selanjutnya, waktu 15 hingga 20 hari akan diberikan kepada semua pihak untuk menyelesaikan penyelesaian yang lebih luas dan komprehensif.
Kesepakatan yang untuk sementara disebut "Kesepakatan Islamabad" ini akan mencakup kerangka kerja regional untuk pengelolaan dan keamanan Selat Hormuz. Pembicaraan tatap muka terakhir dijadwalkan akan berlangsung di ibu kota Pakistan, Islamabad.
Komitmen Jangka Panjang dan Pertukaran Kepentingan
Sumber diplomatik yang sama mengungkapkan bahwa kesepakatan akhir diperkirakan akan mencakup komitmen strategis dari Iran untuk tidak mengejar pengembangan senjata nuklir. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat dan sekutunya akan mencabut berbagai sanksi ekonomi yang selama ini membebani perekonomian Iran serta melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan di bank-bank internasional.
Proposal Pakistan ini muncul di tengah ketegangan regional yang semakin memanas dan mengancam stabilitas keamanan di Timur Tengah. Keberhasilan negosiasi ini tidak hanya akan menghentikan pertumpahan darah tetapi juga membuka kembali jalur perdagangan energi global yang sangat bergantung pada Selat Hormuz.



