Trump Akui AS Kirim Senjata untuk Demonstran Iran, Tapi Ternyata Gagal Disalurkan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengakui bahwa negaranya telah mengirimkan banyak persenjataan dalam upaya mempersenjatai para demonstran antipemerintah di Iran. Namun, upaya tersebut gagal total karena senjata-senjata itu tidak pernah sampai ke tangan para demonstran, melainkan diambil oleh kelompok tertentu yang tidak disebutkan namanya.
Pengakuan dalam Konferensi Pers di Gedung Putih
Pengakuan ini disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan dalam acara Paskah di Gedung Putih pada Senin, 6 April 2026 waktu setempat, seperti dilansir oleh AFP dan Al Arabiya. Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kegagalan operasi rahasia ini.
"Kami telah mengirimkan senjata, banyak senjata, senjata-senjata itu seharusnya diberikan kepada rakyat agar mereka dapat melawan para preman ini," ucap Trump dengan nada frustrasi. "Tahukah Anda apa yang terjadi? Orang-orang yang menerima senjata itu menyimpannya. Jadi, saya sangat kecewa dengan kelompok orang tertentu, dan mereka akan membayar mahal untuk hal itu."
Kelompok Kurdi Dituding Sebagai Penyebab Kegagalan
Meski Trump tidak secara eksplisit menyebut kelompok mana yang dituding mengambil senjata pasokan AS, laporan dari seorang reporter Fox News pada Minggu, 5 April 2026, mengungkapkan bahwa Trump menyalahkan perantara Kurdi. Kelompok ini diduga telah menyita persenjataan yang seharusnya ditujukan untuk para pembangkang Iran, sehingga menghambat upaya penggulingan pemerintah Teheran.
Selain itu, Trump juga membuat klaim kontroversial tanpa bukti jelas, menyatakan bahwa AS memiliki "banyak penyadapan" dari warga sipil Iran yang mendesak Amerika untuk tidak berhenti dalam upaya menggulingkan pemerintah. "Mereka rela menderita demi kebebasan," klaim Trump, meski tidak memberikan detail lebih lanjut.
Ancaman Hancurkan Iran dalam Semalam
Dalam perkembangan terpisah, Trump sebelumnya telah mengeluarkan ancaman serius terhadap Iran dalam konferensi pers di Gedung Putih. Dia memperingatkan bahwa Iran dapat dihancurkan dalam semalam jika tidak mencapai kesepakatan gencatan senjata paling lambat pada Selasa, 7 April 2026 malam.
"Seluruh negara dapat dihancurkan dalam semalam. Dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump dengan nada mengintimidasi. "Saya harap saya tidak perlu melakukannya."
Trump memberlakukan tenggat waktu ketat bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata atau menghadapi serangan besar-besaran AS terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya. Dia menuntut Teheran melepaskan senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur perdagangan minyak global.
Respons Iran dan Implikasi Diplomatik
Ancaman Trump ini telah memicu ketegangan diplomatik yang semakin memanas. Iran sebelumnya telah menepis ancaman tersebut dengan menyebutnya sebagai "delusional" atau khayalan, sambil menegaskan bahwa mereka akan membuka Selat Hormuz hanya jika ganti rugi perang dibayar lunas. Situasi ini memperlihatkan eskalasi konflik yang berpotensi mengarah pada konfrontasi militer lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Dengan pengakuan Trump tentang kegagalan pengiriman senjata dan ancaman penghancuran, hubungan AS-Iran semakin rumit. Analis menilai bahwa langkah-langkah ini dapat memperburuk stabilitas regional dan memicu respons keras dari sekutu Iran serta komunitas internasional.



