IAEA Klaim Segera Inspeksi Nuklir Iran, Iran Bantah Beri Izin
IAEA Klaim Segera Inspeksi Nuklir Iran, Iran Bantah

Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan pihaknya akan segera melakukan inspeksi nuklir di Iran, Rabu (24/6). Keputusan ini diambil setelah Amerika Serikat dan Iran menyelesaikan putaran pertama negosiasi damai.

Pernyataan Grossi Soal Inspeksi

"Inspeksi nuklir akan dilakukan," kata Grossi dalam konferensi pers di Jepang. Menurutnya, IAEA dan Iran saat ini tengah membahas rincian teknis pelaksanaan inspeksi. "Kami akan segera membahas mekanismenya—tanggal, prosedur, dan tempat," ujarnya.

Grossi merujuk pada Paragraf 8 dalam nota kesepahaman (MoU) 14 poin yang ditandatangani AS dan Iran pada Senin (22/6). "Paragraf 8 dalam MoU ini secara eksplisit menyatakan bahwa aktivitas yang berkaitan dengan nuklir akan diawasi oleh IAEA," jelasnya. "Dengan begitu, kami harus melakukan inspeksi. Entah lusa, satu minggu lagi, atau 10 hari lagi, inspeksi itu akan dilakukan. Tentu saja dengan restu Iran. Jika tidak, akan ada masalah lain."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Iran Belum Beri Izin

Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi membantah klaim tersebut. Iran belum berencana memberikan akses ke fasilitas nuklirnya. Menurutnya, persoalan itu baru boleh dibahas jika AS-Iran sudah mencapai kesepakatan final. Selain itu, harus ada langkah nyata pencabutan sanksi terhadap Iran.

"Kegaduhan media tidak dapat digunakan untuk memaksakan fakta di lapangan," tulis Gharibabadi di platform X. Pada Selasa (23/6), Iran menyatakan bahwa IAEA tidak akan diizinkan memeriksa fasilitas nuklir yang pernah jadi sasaran serangan udara AS dan Israel tahun lalu. Sejak fasilitas nuklirnya dibombardir, Iran belum mengizinkan IAEA mengakses lokasi-lokasi nuklir paling sensitif. Lembaga dunia itu memang masih sempat memeriksa sejumlah fasilitas lain, namun inspeksi dihentikan setelah AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

Klaim Trump dan Vance

Wakil Presiden AS JD Vance sempat menegaskan bahwa Iran telah setuju mengizinkan kembali inspektur IAEA. Senada, Presiden AS Donald Trump pada Selasa (23/6) mengatakan Iran telah "sepenuhnya sepakat" untuk mengizinkan inspeksi nuklir. Trump juga menyebut angkatan laut AS tidak akan memblokade Selat Hormuz lagi.

Isu Uranium Diperkaya

Salah satu isu utama dalam negosiasi adalah uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen. Jika mencapai 90 persen, uraniumnya bisa digunakan untuk senjata nuklir. Sebelum serangan Israel pada 13 Juni 2025, IAEA memperkirakan Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen—cukup untuk memproduksi sekitar 10 senjata nuklir jika diperkaya lebih lanjut.

IAEA meyakini lebih dari 200 kilogram uranium tingkat tinggi masih disimpan di kompleks terowongan di Isfahan, Iran tengah. Lokasi tersebut sempat menjadi sasaran serangan, tetapi tidak mengalami kerusakan besar. Hingga kini, Iran belum memberi tahu IAEA berapa banyak uranium yang tersisa setelah serangan dan masih merahasiakan lokasi penyimpanannya.

MoU 14 poin yang ditandatangani AS dan Iran mencakup kesepakatan prinsip untuk mengakhiri perang dan peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari. Dalam kurun waktu itu, kedua negara akan membahas isu-isu rumit, termasuk program nuklir Iran.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga