KOMPAS.com - Abu Najjeh kembali harus berpindah setelah komunitas Badui Palestina yang dipimpinnya mengalami pengusiran paksa untuk kesekian kalinya di Tepi Barat bagian tengah. Mukhtar atau pemimpin bekas komunitas Badui Ein Samiya itu menyebut situasi terbaru sebagai "Nakba ketiga", merujuk pada rangkaian pengusiran yang terus dialami keluarganya sejak 1948.
Ia berbicara dari tenda yang baru didirikan di pinggiran Rammun, tak lama sebelum bergegas mencari anak-anaknya di tengah kekerasan yang terjadi di Jiljilyya. Pada pagi yang sama, sekelompok pemukim Yahudi disebut mencuri ratusan domba dan dua traktor milik kerabatnya, serta menembak mati Yousef Kaabneh, remaja 16 tahun dari klan Kaabneh Abu Najjeh.
Peristiwa ini menambah panjang daftar penderitaan warga Badui Palestina yang terusir dari tanah leluhur mereka. Abu Najjeh menegaskan bahwa pengusiran ini bukanlah yang pertama dan kemungkinan bukan yang terakhir. Komunitasnya telah berulang kali dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka oleh otoritas Israel dan pemukim Yahudi.
Kronologi Pengusiran dan Kekerasan
Menurut kesaksian warga, pengusiran terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan. Kelompok pemukim bersenjata datang dengan kendaraan dan langsung mengambil alih lahan serta properti milik Badui. Selain mencuri domba dan traktor, mereka juga melakukan aksi kekerasan yang menewaskan seorang remaja.
Yousef Kaabneh, korban penembakan, dikenal sebagai anak yang rajin membantu keluarganya menggembalakan domba. Kematiannya menyisakan duka mendalam bagi komunitas Badui setempat.
Respons Masyarakat Internasional
Sejumlah organisasi hak asasi manusia telah mengecam tindakan pemukim Yahudi tersebut. Mereka mendesak pemerintah Israel untuk menghentikan pengusiran dan kekerasan terhadap warga Palestina. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari otoritas Israel.
Komunitas Badui Palestina di Tepi Barat terus hidup dalam ketidakpastian. Setiap kali mereka membangun kembali kehidupan, ancaman pengusiran selalu menghantui.



