Arab Saudi Tegaskan Sikap soal Selat Hormuz
LONDON, KOMPAS.com – Arab Saudi secara resmi menyampaikan sikapnya terkait perkembangan terkini di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap jalur perdagangan energi dunia ini semakin memuncak setelah konflik yang melibatkan Iran memicu ketidakstabilan regional.
Sikap tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, di London pada Selasa (12/5/2026). Pertemuan ini menjadi forum penting bagi kedua negara untuk membahas isu-isu strategis yang mempengaruhi keamanan dan ekonomi global.
Fokus Pembahasan: Hubungan Bilateral dan Stabilitas Kawasan
Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri luar negeri membahas hubungan bilateral antara Arab Saudi dan Inggris, serta perkembangan terbaru di Timur Tengah. Diskusi juga mencakup dampak keamanan dan ekonomi dari situasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dunia.
Arab Saudi dan Inggris menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan melalui kerja sama internasional yang lebih erat. Kedua negara sepakat bahwa stabilitas Selat Hormuz adalah kunci untuk mencegah gangguan pasokan energi dan eskalasi konflik yang lebih luas.
Implikasi bagi Pasar Energi Global
Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global, dengan sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Ketegangan yang meningkat dapat mempengaruhi harga minyak dan keamanan energi negara-negara pengimpor. Pernyataan Arab Saudi ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran pasar dan memperkuat upaya diplomatik untuk menjaga perdamaian.
Langkah Arab Saudi menunjukkan komitmennya terhadap stabilitas regional dan kemitraan dengan negara-negara Barat, terutama Inggris, dalam menghadapi tantangan keamanan bersama. Kerja sama ini diharapkan dapat membawa solusi damai bagi ketegangan yang sedang berlangsung.



