Wamendagri Bima Arya Bantah Usulan JK Kurangi Subsidi BBM: Data Tak Mendukung
Bima Arya Bantah Usulan JK Kurangi Subsidi BBM

Wamendagri Bima Arya Bantah Usulan JK Kurangi Subsidi BBM: Data Tak Mendukung

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya secara tegas membantah usulan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) agar pemerintah mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah krisis energi global. Pernyataan JK dinilai terlalu terburu-buru dan tidak sesuai dengan data terbaru yang dimiliki pemerintah.

Data Stok BBM Masih Cukup dan Ketergantungan Impor Terkendali

Bima Arya, yang juga menjabat sebagai Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), menyatakan bahwa stok BBM di Indonesia saat ini masih dalam kondisi mencukupi. Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa suplai BBM Indonesia tidak mayoritas berasal dari kawasan Selat Hormuz, yang belakangan ditutup oleh Iran akibat konflik dengan Israel.

"Data menunjukkan bahwa tidak saja ketersediaan BBM kita masih mencukupi, tetapi ketergantungan kita kepada impor BBM mentah yang melalui Selat Hormuz masih pada skala yang moderat, yaitu sekitar 20 persen," kata Bima Arya dalam keterangan persnya pada Sabtu, 11 April 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dia menambahkan bahwa pemerintah saat ini tengah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengalihkan sumber impor tersebut melalui jalur lain, guna mengantisipasi gangguan dari penutupan Selat Hormuz.

Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya bagi Indonesia

Informasi per Jumat, 10 April 2026, menunjukkan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup oleh Iran. Penutupan ini dilakukan sebagai respons atas serangan Israel yang terus menggencarkan aksinya ke Lebanon. Iran menyatakan bahwa Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata, sehingga Israel tidak semestinya melanjutkan serangan hingga menimbulkan korban.

Akibat kondisi tersebut, kapal tanker dari Indonesia yang berada di kawasan Selat Hormuz pun belum dapat keluar. Namun, Bima Arya menegaskan bahwa pemerintah telah memiliki mitigasi risiko untuk menghadapi situasi ini tanpa perlu mengambil langkah drastis seperti mengurangi subsidi BBM.

Usulan Pengurangan Subsidi Dinilai Memberatkan Rakyat

Bima Arya mengkritik usulan Jusuf Kalla tersebut dengan menyatakan bahwa pengurangan subsidi BBM justru akan memberatkan beban kebutuhan masyarakat. Dia merujuk pada data kondisi fiskal yang dipaparkan secara lengkap dan rinci dalam Rapat Kerja Pemerintah oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

"Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi keuangan kita stabil dan terkendali. Pencabutan subsidi hanya akan membebani rakyat dan pasti akan memberikan efek domino lain yang menyusahkan rakyat," ujar Bima Arya.

Meski demikian, dia mengapresiasi pemikiran Jusuf Kalla yang dinilai sangat dibutuhkan untuk mendukung rencana besar Presiden dalam mempercepat kemandirian energi Indonesia. Bima Arya menekankan bahwa dialog konstruktif seperti ini penting, namun harus didasarkan pada data yang akurat dan terkini.

Respons dari Berbagai Pihak

Usulan Jusuf Kalla sebelumnya juga telah mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sejumlah anggota DPR menilai bahwa usulan tersebut dapat memberatkan pemerintah dalam mengelola anggaran dan menjaga stabilitas ekonomi.

Pembahasan mengenai subsidi BBM ini menjadi semakin relevan mengingat dinamika geopolitik global yang mempengaruhi pasokan energi. Pemerintah Indonesia diharapkan dapat terus memantau perkembangan situasi dan mengambil kebijakan yang tepat sasaran tanpa mengorbankan kepentingan rakyat banyak.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga