Pada tahun 1985, dunia politik Brasil diguncang oleh kabar duka. Presiden terpilih Brasil, Tancredo Neves, meninggal dunia sebelum sempat dilantik secara resmi. Ia meninggal setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya selama menjadi tokoh oposisi pemerintah.
Latar Belakang Rezim Militer Brasil
Brasil pernah mengalami masa kelam di bawah rezim militer selama puluhan tahun, tepatnya dari tahun 1964 hingga 1985. Selama periode tersebut, lima jenderal militer berturut-turut memimpin negara. Jenderal terakhir yang memegang kekuasaan adalah João Baptista de Oliveira Figueiredo. Namun, kepemimpinannya mulai terkikis seiring munculnya tokoh oposisi sipil, Tancredo Neves.
Kemenangan Tancredo Neves
Tancredo Neves berhasil terpilih sebagai presiden dan dijadwalkan menjadi presiden sipil pertama sejak tahun 1964. Kemenangannya diraih setelah mendapatkan dukungan dari delegasi partai politik yang membelot serta dukungan luas dari masyarakat Brasil yang sudah muak dengan pemerintahan militer. Dalam tiga bulan sebelum pelantikannya, Tancredo melakukan perjalanan ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan beberapa negara di Amerika Latin.
- Di Washington, ia membangun hubungan baik dengan Kongres AS, Gedung Putih, dan lembaga pemberi pinjaman multilateral. Ia juga berbicara dengan kelompok keagamaan dan akademisi AS.
- Di Eropa Barat, Tancredo berunding dengan pemerintah dan partai politik, serta melakukan ziarah ke Vatikan.
Masalah Kesehatan yang Menggerogoti
Meskipun semangatnya tinggi, usia Tancredo yang sudah 75 tahun menjadi tantangan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya masih kuat untuk memimpin, namun kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Selama berbulan-bulan, ia berjuang melawan penyakit usus. Ia menjalani operasi dan mengandalkan antibiotik yang diresepkan oleh dokter keluarganya. Sayangnya, kondisinya terus memburuk.
Meninggal Sebelum Dilantik
Kondisi fisik Tancredo semakin melemah akibat komplikasi kesehatan yang parah. Menurut laporan The New York Times, Tancredo meninggal dunia pada 21 April 1985, padahal ia dijadwalkan dilantik pada 15 Maret 1985. Wakil Presiden Jose Sarney kemudian dilantik sebagai penjabat presiden menggantikan Neves. Sarney otomatis menjadi presiden dan dalam pidatonya berjanji akan melanjutkan program-program Tancredo.
"Perubahan yang dijanjikan akan terjadi," ujar Sarney. "Kita akan menjalankan pemerintahan yang harmonis, berubah, bekerja, bermoral, dan hemat, dan kita akan tegas melawan korupsi."
Kisah Tancredo Neves menjadi pengingat akan perjuangan demokrasi di Brasil dan betapa rapuhnya harapan yang harus pupus sebelum sempat terwujud.



