Fadli Zon Kritik Keras Saiful Mujani, Sebut Pernyataan 'Jatuhkan Prabowo' Tak Paham Demokrasi
Fadli Zon Kritik Saiful Mujani Soal Pernyataan Jatuhkan Prabowo

Fadli Zon Kritik Keras Saiful Mujani, Sebut Pernyataan 'Jatuhkan Prabowo' Tak Paham Demokrasi

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, melontarkan kritik tajam terhadap pengamat politik Saiful Mujani terkait pernyataan viral yang mengajak untuk 'menjatuhkan Prabowo'. Dalam pernyataannya di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, pada Rabu (8/4/2026), Fadli Zon menegaskan bahwa Saiful Mujani dinilai tidak memahami esensi demokrasi yang sesungguhnya.

Prabowo Dijelaskan Sebagai Tokoh Demokrasi

Fadli Zon memulai penjelasannya dengan membantah tuduhan bahwa Presiden Prabowo Subianto bersifat otoriter. Ia menekankan bahwa Prabowo justru merupakan figur yang telah memilih jalan demokrasi sejak lama. "Saya bersaksi, jika ada yang menyebut beliau otoriter, itu ahistoris. Pak Prabowo sudah memilih demokrasi sejak tahun 1999, setelah pensiun dari militer dan masuk ke organisasi sipil, termasuk ikut konvensi partai politik pada 2004 dan mendirikan Gerindra," ujar Fadli Zon.

Lebih lanjut, ia menyoroti perjalanan politik Prabowo yang telah mengalami empat kali kekalahan dalam kontestasi Pilpres, yakni pada tahun 2009, 2014, dan 2019. Menurut Fadli, hal ini membuktikan keteguhan Prabowo terhadap proses demokrasi. "Dia tidak pernah menyerah pada demokrasi, dan alhamdulillah akhirnya menang pada 2024 dengan dukungan 58% pemilih atau sekitar 96 juta suara," tambahnya. Ia mengaku heran jika perjalanan tersebut justru dikerdilkan dengan cap otoriter.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kritik Terhadap Pengamat dan Sindiran Perilaku Pengkhianat

Fadli Zon kemudian mengkritik para pengamat politik, termasuk Saiful Mujani, yang dinilainya tidak pernah terjun langsung dalam praktik demokrasi. "Pengamat itu seperti non-playing captain dalam sepak bola, kadang merasa lebih hebat dari pemainnya. Saiful Mujani, sebagai profesor, seharusnya paham demokrasi, tapi apakah dia pernah berkontestasi atau dapat dukungan rakyat? Jangan memprovokasi secara inkonstitusional untuk menjatuhkan pemimpin," tegasnya.

Dalam konteks ini, Fadli juga mengajak semua pihak untuk menghindari perilaku pengkhianat, yang menurutnya selalu ada di setiap zaman. "Dalam sejarah, seperti saat agresi militer Belanda, selalu ada yang menusuk dari belakang. Pengkhianat itu menggunting dalam lipatan dan mengail di air keruh. Ini budaya buruk yang harus ditinggalkan," jelasnya, menekankan pentingnya mengembangkan budaya positif dalam politik.

Respons dari Istana dan Viralnya Video Saiful Mujani

Pernyataan Saiful Mujani yang viral di media sosial, di mana ia berbicara tentang menjatuhkan Prabowo untuk menyelamatkan bangsa, telah memicu berbagai reaksi. Dalam video tersebut, Saiful menyatakan bahwa nasihat kepada Prabowo mungkin tidak efektif, sehingga opsi yang tersisa adalah menjatuhkannya. "Bisanya hanya dijatuhkan. Itu untuk menyelamatkan diri kita dan bangsa," kata Saiful Mujani dalam video yang beredar pada Minggu (5/4).

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons hal ini dengan singkat, menyatakan bahwa ia masih fokus pada pekerjaan yang banyak. "Saya belum lihat beliau bicara apa. Prabowo sedang berkonsentrasi pada hal-hal besar dan strategis," ujar Teddy di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah lebih memilih untuk tidak terlibat dalam kontroversi tersebut dan tetap berfokus pada agenda kerja.

Dengan demikian, kritik Fadli Zon terhadap Saiful Mujani menyoroti ketegangan dalam dunia politik Indonesia, di mana perbedaan pendapat tentang demokrasi dan kepemimpinan terus menjadi bahan perdebatan publik. Insiden ini juga mengingatkan akan pentingnya dialog yang konstruktif dan menghindari retorika yang dapat memecah belah.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga