BPJPH Benchmarking ke BPOM untuk Perkuat Standar Laboratorium Halal Nasional
BPJPH Benchmarking ke BPOM Perkuat Laboratorium Halal

BPJPH Lakukan Benchmarking ke BPOM untuk Tingkatkan Kualitas Laboratorium Halal

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah melaksanakan kegiatan benchmarking ke Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kunjungan kerja ini bertujuan untuk memperkuat standarisasi laboratorium pengujian halal di tingkat nasional serta mendukung pengembangan jejaring layanan di berbagai wilayah di Indonesia.

Rombongan BPJPH Diterima oleh Kepala PPPOMN

Dalam kunjungan yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu, rombongan BPJPH diterima oleh Kepala PPPOMN Mimin Jiwo Winanti beserta timnya. Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Utama BPJPH Muhammad Aqil Irham, Deputi Bidang Pengawasan dan Pembinaan Jaminan Produk Halal Chuzaemi Abidin, Direktur Pengawasan JPH Budi Setyo Hartoto, serta Kepala Laboratorium Halal BPJPH Giri Cahyono bersama jajaran lainnya.

Fokus pada Penguatan Ekosistem Layanan Halal

Muhammad Aqil Irham menjelaskan bahwa benchmarking ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk menguatkan ekosistem layanan halal nasional. "Benchmarking ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas laboratorium halal nasional melalui pembelajaran praktik terbaik, standarisasi metode uji, serta peningkatan kualitas layanan sertifikasi halal," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 18 April 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dia menambahkan bahwa laboratorium yang kuat dan terstandarisasi menjadi fondasi utama dalam menyediakan layanan sertifikasi halal yang kredibel, cepat, dan dapat dipercaya oleh masyarakat serta pelaku usaha.

Pembahasan Teknis dan Penetapan Standar

Dalam pertemuan tersebut, BPJPH menggali pengalaman BPOM terkait tata kelola laboratorium nasional, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan jejaring laboratorium di daerah. Hal ini dijadikan sebagai referensi dalam membangun sistem laboratorium halal yang terintegrasi dan efisien.

Chuzaemi Abidin menegaskan bahwa salah satu poin strategis yang menjadi perhatian adalah penetapan marker peptide porcine sebagai acuan nasional dalam identifikasi kandungan babi pada produk. "Penetapan marker peptide porcine penting agar seluruh laboratorium memiliki standar yang sama. Dengan demikian, hasil pengujian menjadi lebih konsisten, valid, dan memberikan kepastian dalam proses sertifikasi halal," jelasnya.

Komitmen untuk Pengembangan Berkelanjutan

BPJPH berkomitmen untuk terus melakukan penguatan kapasitas laboratorium melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pengembangan metode uji yang lebih akurat, serta perluasan jejaring laboratorium halal di berbagai daerah. Kegiatan benchmarking ini diharapkan dapat mendukung tersedianya layanan pengujian halal yang lebih konsisten dan terukur dalam proses sertifikasi halal di masa depan.

Dengan langkah ini, BPJPH optimis dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap produk halal di Indonesia, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekosistem halal yang lebih kuat dan terstandarisasi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga