SPPG Viral di Kalsel: Rumah Mewah Bak Istana Beralih Fungsi Jadi Pusat Gizi
Sebuah bangunan mewah yang menyerupai istana di Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bangunan tersebut ternyata berfungsi sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Yayasan Cahaya Bumi Borneo.
Konfirmasi dari Kapolsek Sungai Pandan
Kapolsek Sungai Pandan, Ipda Rusdi, memberikan konfirmasi terkait bangunan yang viral tersebut. Ia menyatakan bahwa bangunan itu merupakan milik M Arsyad Ariyadi dan sempat diundang dalam acara peresmiannya sekitar dua hingga tiga bulan yang lalu.
"Iya, saya sempat diundang untuk peresmiannya. Sekitar dua sampai tiga bulan yang lalu," kata Rusdi, seperti dilansir dari sumber terpercaya.
Asal Usul Bangunan Mewah Tersebut
Menurut penuturan Rusdi, pada saat peresmian, terungkap cerita bahwa bangunan itu awalnya dibangun oleh M Arsyad Ariyadi sebagai rumah untuk anaknya. Namun, karena sang anak masih lajang dan tinggal bersama orang tua, bangunan tersebut akhirnya dialihfungsikan menjadi SPPG.
"Anaknya masih lajang, belum nikah. Jadi bangunan itu diubah menjadi SPPG karena dari luas bangunan sudah memenuhi standar Badan Gizi Nasional (BGN)," jelas Rusdi.
Fungsi dan Manfaat SPPG Ini
SPPG yang dioperasikan oleh Yayasan Cahaya Bumi Borneo ini merupakan yang pertama ada di Kecamatan Sungai Pandan. Lembaga ini menjangkau lebih dari 2.000 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG), memberikan kontribusi signifikan bagi pemenuhan gizi masyarakat setempat.
Keunikan Bangunan yang Menjadi Sorotan
Rusdi mengakui bahwa ia sempat terkagum-kagum dengan kemewahan bangunan tersebut saat menghadiri peresmian. Ia bahkan telah memprediksi bahwa perbedaan desain SPPG di Sungai Pandan dengan SPPG lain di Kalimantan Selatan akan ramai diperbincangkan.
"Karena bentuknya beda dari SPPG lain, jadi lebih unik. Tetapi untuk kegunaan sama saja," tuturnya, menekankan bahwa meski tampilannya mewah, fungsi utamanya tetap sebagai pusat pelayanan gizi.
Viralnya bangunan ini menyoroti bagaimana inisiatif sosial dapat hadir dalam kemasan yang tidak biasa, sekaligus memicu diskusi tentang standar dan penampilan fasilitas publik di Indonesia.



