Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mengungkapkan bahwa masih terdapat orang tua yang menolak memberikan vaksin campak kepada anak-anak dan balita mereka. Kendala ini menjadi perhatian serius dalam upaya mencapai target vaksinasi di wilayah tersebut.
Penolakan Vaksin Masih Terjadi
Kepala Dinkes Banten, Ati Pramudji Hastuti, menargetkan sebanyak 380 ribu anak dan balita di seluruh Banten mendapatkan vaksin campak. Namun, ia mengakui bahwa masih ada masyarakat yang menolak dan perlu diberikan pemahaman lebih lanjut.
"Penolakan pasti ada, dengan berbagai alasan. Mungkin mereka belum yakin akan manfaat vaksin. Namun, dengan edukasi yang dilakukan, dibantu oleh Pak RT, Pak RW, dan berbagai pihak termasuk organisasi masyarakat, alhamdulillah penolakan perlahan-lahan berkurang," ujar Ati pada Jumat (24/4/2026).
Alasan Penolakan Orang Tua
Menurut Ati, rata-rata orang tua menolak karena khawatir anak mereka akan sakit setelah divaksin. Pihaknya terus memberikan penjelasan hingga akhirnya mereka bersedia.
"Berbagai alasan muncul, seperti takut anak sakit, anak sehat tapi setelah disuntik khawatir sakit, dan ada juga yang khawatir soal kehalalan vaksin. Kami jelaskan bahwa vaksin halal. Kami tidak membiarkan penolakan, kami edukasi dari berbagai pihak hingga akhirnya mereka mau disuntik karena target kami 100 persen," jelas Ati.
Capaian Vaksinasi Hingga Saat Ini
Ati menjelaskan bahwa sekitar 68 persen dari target telah tercapai. Dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil masyarakat yang awalnya menolak.
"Delapan persen dari 68 persen, tetapi yang menolak akhirnya bisa. Awalnya mereka tidak mau, kami rayu hingga mereka mau," katanya.
Pihaknya akan mempercepat program vaksinasi pada akhir bulan April ini. Ati berharap Banten dapat mencapai angka 100 persen pada akhir April.
"Untuk imunisasi massal, kami sudah di angka 68 persen. Harapan kami di akhir bulan April ini imunisasi massal campak sudah selesai, sehingga penularan mulai berkurang," pungkasnya.



