Basarnas terus berupaya melakukan evakuasi secara maksimal kepada seluruh korban insiden tabrakan antara KA Argo Bromo dan KRL CommuterLine di Stasiun Bekasi Timur. Kepala Basarnas, M. Syafi'i, mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi adalah menyatunya gerbong KRL dengan lokomotif kereta jarak jauh.
Kendala Ruang Evakuasi
"Yang menjadi permasalahan adalah space untuk kita melakukan tindakan. Jadi kita melakukan tindakan dari luar ternyata juga mengalami kesulitan tersendiri," ujar Syafi'i kepada wartawan di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Selasa (28/4/2026). Ia menambahkan bahwa dari dalam gerbong, volume ruang sangat terbatas sehingga tim evakuasi tidak bisa lebih dari 25 orang dan harus bekerja bercampur dengan material yang menyatu dari lokomotif dan gerbong.
Tujuh Korban Wanita Masih Terjepit
Syafi'i menyebutkan bahwa ada tujuh korban yang masih terjepit dalam gerbong KRL dan masih dalam kondisi hidup. Seluruh korban adalah wanita. "Masih ada beberapa korban yang masih dinyatakan hidup, namun kondisinya masih dalam kondisi terjepit sehingga kita akan berupaya untuk secepat mungkin bisa memisahkan antara logam-logam yang menjepit dan kita bisa evakuasi korban," jelasnya.
Tim Basarnas saat ini masih melakukan pemotongan gerbong untuk memudahkan proses evakuasi. Syafi'i belum bisa memastikan jumlah total korban, namun memastikan bahwa tim medis terus bersiaga dan memberikan penanganan untuk mengurangi rasa sakit pada korban yang terjepit, terutama pada bagian kaki.
Penanganan Medis dan Evakuasi
"Dan sekarang langsung dalam penanganan medis, sehingga pada saat mereka mengalami rasa sakit berlebihan diberikan tindakan medis untuk mengurangi rasa sakit, karena memang kondisi khususnya kaki dalam posisi terjepit," kata Syafi'i. Ia menambahkan bahwa tim akan terus berupaya menyelesaikan evakuasi dari himpitan antara lokomotif dan dua gerbong agar semua korban dapat dievakuasi dengan selamat.



