Dari Mal Narkoba Menjadi Kampung Warna-Warni: Perjuangan Iptu Juani Aing di Pesisir Tarakan
Wilayah Selumit Pantai di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, dahulu dikenal sebagai mal narkoba atau pusat transaksi narkotika besar-besaran. Namun, gambaran suram itu berubah berkat dedikasi Iptu Juani Aing, Kaurbinops (KBO) Narkoba Polres Tarakan, yang telah merangkul dan membina anak-anak setempat agar tidak terjerumus dalam peredaran barang haram tersebut.
Usulan untuk Hoegeng Awards 2026
Atas kiprahnya yang luar biasa, Lurah Selumit Pantai, Andi Arfan, mengusulkan Iptu Juani dalam Hoegeng Awards 2026. Andi menilai peran polwan ini sangat besar dalam mengubah kampung narkoba menjadi kampung bebas narkoba yang penuh warna.
"Sosok yang ceria dan ramah dengan semua orang. Ibu Juani juga suka membantu orang lain, baik dengan pemikiran, tenaga, ataupun materi," ujar Andi mengenai dedikasi Iptu Juani.
Kesungguhannya dalam memberikan perhatian telah mengubah kampung kumuh menjadi kampung tematik warna-warni melalui berbagai kegiatan, seperti:
- Kerja bakti dan pengecatan massal rumah warga
- Perbaikan jalan dan jembatan
- Renovasi rumah tidak layak huni
- Pelatihan UMKM beserta bantuan permodalan dan pemasaran
Menyelamatkan Generasi Muda dari Jerat Narkoba
Andi mengaku salut dengan kiprah Iptu Juani yang turun langsung memimpin anggota Polres Tarakan untuk membina anak-anak Selumit Pantai. "Beberapa anak ini kan jadi korban daripada lingkungan narkoba ini. Makanya Polres Tarakan turun melalui Bu Juani Aing," jelasnya.
Upaya penyelamatan ini mencakup mengasuh anak-anak melalui wahana pendidikan pembatasan dan mengajar mengaji di TPA Masjid Al Ma'ruf. "Mereka juga memberikan bantuan ke anak-anak yang agak susah. Penghibur terhadap anak-anak juga banyak yang dia buat," tambah Andi.
Sebagai lurah, Andi merasa sangat terbantu dengan kerja-kerja Iptu Juani. "Kalau kami dari kelurahan, ini sangat bermanfaat karena mereka ini kan kaum termarjinalkan dan terpinggirkan," ucapnya.
Cerita Perjuangan Iptu Juani Aing
Iptu Juani, yang merupakan kandidat Hoegeng Corner 2025, memulai kegiatannya sejak Desember 2024. Dia mengajak dua puluhan Polwan Polres Tarakan untuk menggelar pembinaan dan pendampingan terhadap 80 anak-anak di Selumit Pantai.
"Saya sebagai perempuan di situ prihatin melihat kondisi anak-anak yang ada di wilayah tersebut. Wilayah itu selain kumuh dan padat penduduk, memang rawan sekali terjadi transaksi narkoba," kata Juani.
Awalnya, niat baiknya tidak disambut baik oleh masyarakat setempat yang sangat tertutup terhadap orang asing, terutama aparat kepolisian. "Mereka kalau ngeliat orang asing kan mereka ngelihatnya kayak sinis gitu. Apalagi kita aparat menggunakan uniform lengkap," kenangnya.
Strategi Pendekatan yang Berhasil
Tak menyerah, Iptu Juani dan rekan-rekan Polwan semakin gencar melakukan kegiatan positif untuk pendekatan dengan masyarakat. "Setiap hari kami membersihkan daerah mereka, membersihkan sampah-sampah yang berserakan," ujarnya.
Pelan-pelan aksinya membuahkan hasil. Masyarakat mulai membuka diri dan bergabung untuk sama-sama bebenah daerah tempat tinggalnya. "Berjalannya waktu, anak-anak yang ada di situ akhirnya mereka dekat dengan kita," kata Juani.
Interaksi yang intens mengungkap fakta memprihatinkan: anak-anak di situ dimanfaatkan orang dewasa penjual narkoba untuk menjadi kurir barang haram hingga mata-mata. "Miris bagi kami mendengar hal itu," ucap Juani.
Mengatasi Kendala dan Membangun Warung Kamtibmas
Dari pendataan, puluhan anak-anak Selumit Pantai tidak sekolah karena putus sekolah atau mengikuti orang tua berpindah-pindah. Iptu Juani pun mengajak mereka rajin mengaji di Masjid Al Ma'ruf.
Namun, kendala muncul ketika banyak anak tidak punya seragam mengaji. "Hal seperti itu membuat mereka mundur, karena memang kemampuan orang tua mereka rata-rata di bawah," jelas Juani.
Melalui komunikasi dengan Baznas Kota Tarakan, bantuan akhirnya diberikan kepada anak-anak tersebut. Dukungan juga datang dari pimpinan Polres Tarakan dan Polda Kalimantan Utara dengan membangun Warung Kamtibmas di Selumit Pantai.
Di warung ini, berbagai kegiatan seperti pelatihan menari, bernyanyi, dan kreasi seni lainnya dilaksanakan. "Alhamdulillah sekarang untuk kegiatan narkobanya sendiri lambat laun berkurang. Rutinitas yang dulunya memang rawan sekali, sekarang sudah berkurang 80%," kata Juani dengan penuh harap.



