Sopir Bajaj Dipalak Preman di Tanah Abang Viral, Polisi Buru Pelaku Pemerasan
Aksi pemalakan atau premanisme kembali marak di sekitar kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dengan salah satu korban terbaru adalah seorang sopir bajaj. Sebuah video yang menunjukkan insiden ini telah viral di media sosial, memicu keprihatinan publik dan respons cepat dari aparat keamanan.
Viralnya Video Pemalakan dan Ancaman terhadap Sopir Bajaj
Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @jakarta.terkini, terlihat seorang preman di Tanah Abang memalak sopir bajaj sebesar Rp100 ribu. Preman tersebut mengancam akan memukul atau meneriaki sopir sebagai maling jika permintaannya tidak dituruti. Para sopir bajaj mengaku sering mendapat ancaman serupa, mulai dari diteriaki maling hingga pemukulan, jika mereka tidak memberikan uang setoran.
Meski merasa dirugikan, banyak sopir bajaj mengaku tidak bisa melawan karena lokasi tersebut merupakan tempat mereka mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini menunjukkan betapa rentannya pekerja informal terhadap praktik premanisme yang terus berulang.
Tanggapan Kapolsek Metro Tanah Abang dan Upaya Penanganan
Menanggapi viralnya video tersebut, Kapolsek Metro Tanah Abang AKBP Dhimas Prasetyo menyatakan bahwa pihaknya tengah menyelidiki kasus ini untuk menangkap pelaku pemerasan. "Saat ini anggota masih melakukan lidik untuk menemukan pelaku yang diduga melakukan pemalakan," kata Dhimas saat dikonfirmasi pada Minggu, 12 April 2026.
Dhimas juga mengaku telah berkoordinasi dengan Satpol PP dan pihak terkait lainnya, seperti kecamatan dan dinas perhubungan, untuk melakukan patroli bersama di wilayah rawan pungli. "Kami melakukan koordinasi dengan pihak terkait misal kecamatan dan satpol PP serta dinas perhubungan, untuk laksanakan patroli bersama sama di wilayah rawan pungli agar semua pihak terkait tidak hanya kepolisian mampu mencegah," ujarnya.
Langkah-Langkah Pencegahan dan Pembentukan Posko Terpadu
Sebagai bagian dari upaya penanggulangan premanisme, Satpol PP DKI Jakarta telah menyiapkan pembentukan posko pengawasan terpadu bersama aparat TNI dan Polri. Posko ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan dan mencegah terulangnya aksi pemalakan di kawasan Tanah Abang.
Selain itu, berbagai pihak telah menyoroti masalah premanisme ini, termasuk pesan keras dari pejabat pemerintah dan desakan dari anggota DPR untuk memutus mata rantai premanisme hingga ke hulunya. Hal ini menunjukkan bahwa kasus ini tidak hanya menjadi perhatian lokal, tetapi juga mendapat sorotan nasional.
Dampak pada Masyarakat dan Pekerja Informal
Insiden ini menggarisbawahi kerentanan pekerja informal, seperti sopir bajaj, terhadap praktik premanisme yang dapat mengganggu mata pencaharian mereka. Banyak sopir yang terpaksa menuruti permintaan preman karena takut kehilangan sumber pendapatan atau mengalami kekerasan fisik.
Oleh karena itu, upaya penegakan hukum dan patroli bersama diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi warga dan pekerja di kawasan Tanah Abang, serta mencegah aksi serupa di masa depan.



