Tramadol di Inggris vs Indonesia: Dari Obat Terkontrol hingga Gateway Drug Murah
Tramadol: Ketat di Inggris, Mudah di Akses di Indonesia

Kontras Regulasi Tramadol: Inggris Ketat, Indonesia Mudah Diakses

Di Inggris, tempat saya sedang mendalami studi kriminologi, Tramadol diklasifikasikan secara ketat sebagai Class C dalam Misuse of Drugs Act 1971. Kepemilikan obat ini tanpa resep dokter merupakan tindak pidana yang dapat diancam dengan hukuman penjara hingga dua tahun. Sementara itu, bagi para pengedar, ancaman hukumannya bahkan lebih berat, mencapai hingga 14 tahun penjara.

Transformasi Tramadol di Indonesia: Dari Obat Biasa ke Primadona Pasar Gelap

Berbanding terbalik dengan situasi di Inggris, di Indonesia Tramadol justru telah mengalami transformasi yang mengkhawatirkan. Obat ini kini menjadi gateway drug atau pintu masuk yang paling mudah diakses oleh generasi muda. Harganya yang relatif murah, bahkan lebih terjangkau dari segelas kopi kekinian, menjadikannya primadona di pasar gelap.

Harga per butir Tramadol di Indonesia hanya sekitar Rp 10.000, sebuah angka yang sangat rendah jika dibandingkan dengan risiko kesehatan dan hukum yang ditimbulkannya. Kemudahan akses ini telah menggeser tren penggunaan zat adiktif lain seperti ganja atau lem, terutama karena Tramadol lebih mudah disembunyikan dalam saku seragam atau tas sekolah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Implikasi Sosial dan Hukum yang Mengkhawatirkan

Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius dari berbagai pihak, mengingat Tramadol seharusnya digunakan hanya dengan resep dokter untuk keperluan medis tertentu. Beberapa faktor yang memperparah situasi ini antara lain:

  • Regulasi yang longgar dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Inggris.
  • Penegakan hukum yang belum optimal dalam mengawasi peredaran obat ini.
  • Kurangnya edukasi tentang bahaya penyalahgunaan Tramadol di kalangan masyarakat, terutama remaja.

Dari perspektif kriminologi, perbedaan penanganan Tramadol antara Inggris dan Indonesia ini menunjukkan bagaimana kebijakan obat-obatan dapat memiliki dampak yang sangat berbeda di berbagai negara. Di Inggris, pendekatan yang ketat bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan sejak dini, sementara di Indonesia, akses yang mudah justru menciptakan lingkaran setan penyalahgunaan narkoba.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga