Gelar Juara Senegal Dicabut CAF, Trofi Piala Afrika 2025 Diberikan ke Maroko
Dalam keputusan yang mengejutkan dunia sepak bola Afrika, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara resmi mencabut gelar juara Piala Afrika 2025 yang sebelumnya diraih oleh tim nasional Senegal. Trofi prestisius tersebut kini dialihkan dan diberikan kepada tim nasional Maroko sebagai pemenang baru turnamen tersebut.
Alasan Pencabutan Gelar: Aksi Walk-out 14 Menit di Final
Keputusan kontroversial ini diambil oleh CAF setelah penyelidikan mendalam terhadap insiden yang terjadi selama partai final antara Senegal dan Maroko. Senegal diketahui melakukan aksi walk-out atau meninggalkan lapangan selama 14 menit dalam pertandingan tersebut, yang dinilai melanggar aturan dan etika kompetisi.
Aksi walk-out ini dianggap sebagai pelanggaran serius yang merusak integritas pertandingan, sehingga CAF memutuskan untuk memberikan sanksi tegas berupa pencabutan gelar juara. Sebelumnya, Senegal dinyatakan sebagai pemenang final dengan skor tipis 1-0, tetapi hasil tersebut kini dibatalkan.
Perubahan Skor dan Penetapan Pemenang Baru
Berdasarkan keputusan CAF yang diumumkan pada 17 Maret 2026, kemenangan dalam final Piala Afrika 2025 diubah secara resmi. Skor pertandingan yang semula 0-1 untuk kemenangan Senegal, direvisi menjadi 3-0 untuk kemenangan Maroko.
Perubahan ini menjadikan Maroko sebagai juara baru turnamen, menggeser posisi Senegal yang sebelumnya merayakan kemenangan bersejarah. Keputusan ini telah memicu berbagai reaksi dari para penggemar dan analis sepak bola di seluruh benua Afrika.
Video Viral: Trofi Piala Afrika Diamankan di Kamp Militer Senegal
Usai pengumuman pencabutan gelar, media sosial dihebohkan oleh kemunculan video yang diklaim menampilkan pelatih Senegal, Pape Thiaw. Dalam video tersebut, Thiaw terlihat membawa dan mengamankan trofi Piala Afrika yang mereka raih ke dalam kamp militer di Senegal.
Video ini dengan cepat menjadi viral dan memicu spekulasi mengenai respons timnas Senegal terhadap keputusan CAF. Beberapa pihak menduga bahwa aksi ini merupakan bentuk protes simbolis, sementara yang lain melihatnya sebagai upaya untuk melindungi trofi dari penyitaan lebih lanjut.
Insiden ini menyoroti ketegangan yang muncul pasca-keputusan CAF, dengan banyak pihak mempertanyakan implikasi jangka panjang bagi hubungan antara federasi sepak bola Senegal dan otoritas sepak bola Afrika. CAF sendiri belum memberikan komentar lebih lanjut mengenai video viral tersebut, tetapi keputusan pencabutan gelar dianggap sudah final dan mengikat secara hukum olahraga.



