Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Dr. Ir. Mohamad Yani, M.Eng., mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap sebagai hama perairan ternyata memiliki potensi besar sebagai bahan baku pupuk organik cair untuk tanaman hias. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah seminar daring yang membahas pemanfaatan limbah perikanan.
Potensi Ikan Sapu-Sapu sebagai Pupuk
Menurut Prof. Yani, ikan sapu-sapu mengandung protein dan nutrisi yang cukup tinggi. Kandungan ini dapat diolah menjadi pupuk organik cair yang kaya akan unsur hara makro dan mikro. Proses pembuatannya relatif sederhana, yaitu dengan fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal. Pupuk ini sangat baik untuk pertumbuhan tanaman hias karena dapat meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang pertumbuhan akar serta daun.
Mengatasi Masalah Lingkungan
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang sering mengganggu ekosistem perairan di Indonesia. Populasinya yang melimpah di sungai-sungai besar seperti Ciliwung dan Bengawan Solo kerap menimbulkan masalah. Dengan mengolahnya menjadi pupuk, selain mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar perairan.
Cara Pembuatan Pupuk
Prof. Yani menjelaskan langkah-langkah pembuatan pupuk organik cair dari ikan sapu-sapu. Pertama, ikan dicuci bersih lalu dicincang halus. Kemudian, ikan dicampur dengan gula merah dan air dalam wadah tertutup rapat. Campuran difermentasi selama 7–10 hari hingga menghasilkan cairan berwarna kecoklatan. Cairan ini kemudian disaring dan siap digunakan sebagai pupuk tanaman hias dengan perbandingan 1:10 dengan air.
Manfaat Bagi Petani dan Hobiis
Inovasi ini diharapkan dapat membantu petani tanaman hias dan para hobiis dalam memenuhi kebutuhan pupuk organik yang murah dan ramah lingkungan. Selain itu, pengolahan ikan sapu-sapu juga dapat menjadi alternatif sumber pendapatan bagi nelayan atau masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Dengan demikian, masalah lingkungan dapat teratasi sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Lebih lanjut, Prof. Yani menambahkan bahwa penelitian tentang pemanfaatan ikan sapu-sapu masih terus dikembangkan. Timnya saat ini tengah mengkaji efektivitas pupuk ini pada berbagai jenis tanaman hias, seperti aglonema, anthurium, dan monstera. Hasil awal menunjukkan respons pertumbuhan yang positif.
Dukungan dari Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menyambut baik inovasi ini. Mereka berencana untuk mensosialisasikan teknologi pengolahan ikan sapu-sapu kepada masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang sering mengalami ledakan populasi ikan tersebut. Dengan dukungan yang tepat, limbah perairan yang selama ini menjadi masalah dapat berubah menjadi sumber daya yang bernilai.



