Krisis Air Bersih Pasca Banjir di Takengon
Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, menyebabkan krisis air bersih yang berkepanjangan. Warga di dataran tinggi Gayo terpaksa mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu relawan yang turun tangan adalah Rizky Fajar, seorang relawan Dompet Dhuafa yang berasal dari Bireun.
Malam itu, Rizky sedang sibuk mengikuti kejuaraan panjat tebing di Kota Banda Aceh. Kabar banjir bandang yang menerjang kampung halamannya, Kabupaten Bireun, membuatnya segera bergerak. Perjalanan malam yang panjang dan penuh rintangan harus ditempuhnya. "Dua malam ketahan di jalan karena banjir, enggak bisa lewat. Titik banjir dari Bandar Aceh waktu itu malam pertama, nyangkut di Meureudu, Pidie Jaya," kenang Rizky.
Akses dari Banda Aceh ke daerah pesisir timur lumpuh akibat jembatan putus di Pidie Jaya. Keesokan harinya, Rizky menemukan jalur alternatif, namun kembali terhambat luapan banjir di Kecamatan Peudada, Bireun. Setelah tertahan beberapa hari, ia akhirnya tiba di rumah dan bergabung dengan tim relawan tanggap darurat.
Tugas di Takengon dan Temuan Krisis Air Bersih
Rizky kemudian ditugaskan di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, yang menjadi salah satu wilayah terparah akibat banjir bandang. Kebutuhan utama saat itu adalah pembangunan pos medis, mengingat warga rentan terhadap penyakit kulit dan ISPA. Di Gampong Wihlah Setie, Kecamatan Bintang, warga bertahan di pengungsian balai desa selama dua bulan dengan kondisi serba kekurangan.
Saat bertugas, Rizky menemukan bahwa korban banjir kesulitan mendapatkan air bersih. Pipa-pipa sepanjang dua kilometer yang mengalirkan air dari pegunungan ke perkampungan hilang terbawa arus banjir. Akibatnya, warga mengonsumsi air tangkapan hujan dan air irigasi yang tidak layak. "Mereka tidak punya air bersih pada saat itu. Air yang mereka konsumsi mungkin kita anggap tidak bersih, tapi mereka anggap itu bersih karena tidak ada pilihan lain," jelas Rizky.
Ia segera melaporkan kondisi ini ke Disaster Management Center Dompet Dhuafa, dan kurang dari satu bulan, laporannya disetujui.
Perjuangan Memulihkan Pasokan Air Bersih
Awal Februari 2026, dimulailah penyambungan ulang pipa air bersih. Tantangan utama adalah akses dari desa ke titik mata air yang rusak akibat longsor dan jembatan putus. Medan perbukitan memaksa relawan dan warga bekerja keras. Dengan gotong royong melibatkan 40 warga, pipa-pipa baru sepanjang dua kilometer berhasil dipasang. "Pipanya terlalu berat, jadi kita buka dulu, mikul bareng-bareng sampai 20-30 orang. Satu pipa itu untuk naik pelan-pelan ke atas," tutur Rizky.
Pemasangan pipa dibarengi pembangunan tiga bak penampungan air: di sumber air, di pertengahan jalur, dan dekat permukiman. Kini, air bersih kembali mengalir ke rumah-rumah warga, membawa kebahagiaan bagi penghuni desa.



